Waduh! Banyak Tour Guide Kaleng-kaleng di Raja Ampat, HPI: Pemda Harus Buat Aturan Tegas

Waduh! Banyak Tour Guide Kaleng-kaleng di Raja Ampat, HPI: Pemda Harus Buat Aturan Tegas
Destinasi Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat

NONSTOPNEWS.ID - Siapa yang tidak kenal dengan Panorama dan keindahan bawah laut di kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Bahkan, keindahannya dijuluki “Surga yang tertinggal di bumi”.

Keindahan Raja Ampat tentunya bagaikan magnet bagi para wisatawan, baik lokal maupun internasional. Yang mana tersebut menjadi ladang bisnis dan usaha baik masyarakat sekitar, maupun bagi para pendatang.

Peluang usaha yang cukup menjanjikan di kawasan wisata Raja Ampat salah satunya adalah pramuwisata.

Dimana saat ini, banyak masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai pramuwisata, dibawah naungan perusahaan-perusahan travel lokal.

Namun dimasa ini, iklim usaha travel-travel lokal mulai terganggu akibat adanya travel-travel dan pramuwisata dari luar daerah, utamanya banyak orang asing yang berlibur sambil cari untung.

Seperti disampaikan Tomy E Khorlina selaku Dewan Kode Etik HPI Raja Ampat, perihal adanya kehadiran guide diluar Raja Ampat yang sudah terjadi sejak sebelum masa pandemi.

"Sekarang ini semakin banyak tour guide diluar dari organisasi di Raja Ampat. Karena Raja Ampat kan ada organisasinya, sudah ada travel yang betul-betul hidup di Raja Ampat, Sorong dan sekitarnya," ungkapnya, melalu sambung telepon selulernya (7/1/2022).

Lanjutnya, kehadiran tour and travel diluar Raja Ampat, sangat mengganggu usaha para pelaku travel lokal. Sebab, travel diluar Raja Ampat, menawarkan harga jauh lebih murah.

Sebab, menurut Tomy, para pelaku usaha travel diluar Raja Ampat, tidak membayar retribusi dan pajak daerah.

"Sedangkan travel lokal itukan dia perlu provit bayar pajak, dia bayar guide lokal dan retribusi, juga biaya ini itu. ikut kegiatan dan segala macam dan yang lebih penting , mereka tentu tidak tau regulasi regulasi seperti pembayaran registrasi, pendaftaran online yang juga diharuskan bayar diving yang domestik dan lokal,”

“Mereka gak perlu bayar itu semua, mereka tidak mau mereka  punya harga, mereka lebih murah itu mempersulit travel lokal dan guide lokal, karena mereka tidak menggunakan keduanya ini," sambung Tomy.

Tomy menilai, oknum tour guide atau pramuwisata diluar Raja Ampat adalah tour guide gelap, yang berada diluar naungan HPI dan tidak memberikan kontribusi daerah meski belum ada aturan resmi terkait hal itu. 

"Kontribusi kalau untuk trip gelap gak ada kontribusinya pada daerah, kontribusinya hanya bayar boat, bayar rumah makan resort dan home stay, mereka tidak bayar pajak di sorong dan Raja Ampat," jelasnya. 

Kehadiran oknum pramuwisata gelap dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi ekosistem dan biota laut di kepulauan Raja Ampat karena rata-rata minim akan  pengetahuan konservasi alam di Raja Ampat, sehingga beresiko bagi wisatawan itu sendiri.

Tomy berharap Pemeritah Daerah Kabupaten Kepulauan Raja Ampat membantu HPI agar lebih tegas dan membuat aturan dan regulasi tentang pramuwisata atau usaha tour and travel di Raja Ampat.

"Harapan kita semua sebagai pengusaha travel lokal tentu punya jurus masing-masing menghadapi situasi ini. Tapi kita sangat berharap Pemerintah membantu kita mempunyai aturan tegas,” pungkasnya.(H3n)