Soal Kelangkaan Migas, Ko Hiswana Migas Diam Aja?

Soal Kelangkaan Migas, Ko Hiswana Migas Diam Aja? (Ilustrasi/net)

NONSTOPNEWS.ID – Badan Pemantau Pembangunan Provinsi Banten (BP3B) menilai bahwa persoalan gas bersubsidi yang dikeluhkan masyarakat karena lemahnya pengawasan dari Hiswanamigas kepada para agen. Bahkan ironisnya, hingga saat ini masyarakat masih mengeluhkan kelangkaan dan tingginya harga gas bersubsidi tersebut.

“Kok pihak Hiswana Migas dan Pemda terkesan tutup mata dengan adanya keluhan dari masyarakat soal kelangkaan gas bersubsidi di wilayah Kota Pandeglang,” tandas Apandi Jarkasi selaku Ketua Umum BP3B kepada media, Sabtu (01/05/21).

Menurut Apandi, pihaknya banyak menerima pengaduan dan keluhan dari masyarakat tentang kelangkaan gas bersubsidi dan harga yang melebihi HET dibeberapa agen dan pengecer di wilayah Kota Pandeglang.

“Bahkan kita lagi melakukan investigasi adanya mobil yang sengaja menurunkan gas yang sembunyi-sebunyi, yang infonya dibekingi oleh oknum aparat. Makanya kita minta Dinas Indagpas dan Hiswanamigas jangan tutup mata,” katanya lagi.

Sebelumnya diberitakan, tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram selama ramadhan kembali mengalami kelangkaan. Kelangkaan ditemukan di beberapa pangkalan yang ada di Wilayah Kota Pandeglang dan sekitarnya, seperti di Kecaman Cadasari, Karang Tanjung, dan Pandeglang Banten.

Epi, warga Ciherang Kecamatan Pandeglang mengaku kesulitan mencari tabung gas elpiji 3 kilogram. Padahal, dia sudah mencari ke beberapa pangkalan hingga ke pengecer.

“Iyah benar dah 5 hari warga kesulitan mencari gas elpiji 3 kilogram. Saya sudah mencari kemana-mana tapi enggak dapat. Sudah ada satu minggu langka,” kata Epi kepada media, Minggu (25/04/21).

Parahnya, meskipun ada harga tabung gas itu melebihi harga eceran tertinggi (HET). Seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Pandeglang ini mengaku terpaksa membeli tabung yang biasa disebut ‘Si Melon’ itu dengan harga Rp 35- 40 ribu.

“Beli tabung gas Rp 40 ribu di daerah Cipacung (Kecamatan Majasari). Itu terpkasa karena nyari kemana-mana sulit meski harga mahal,” ujarnya singkat.

Sementara Bagian Hiswana Migas Banten, hingga berita ini ditulis belum bisa dimintai keterangan. (bmco/red)