SMP Negeri Tatap Muka 'Sembunyi' di Brebes, Bukti Bupati Gagal Entaskan Kemiskinan

SMP Negeri Tatap Muka 'Sembunyi' di Brebes, Bukti Bupati Gagal Entaskan Kemiskinan (Ilustrasi belajar saat pandemi/cnbc)

NONSTOPNEWS.ID - Ketua Kaukus Muda Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Bidang Advokasi dan Hukum, Hamam Asy'ari menyayangkan adanya peristiwa ditemukannya sekolah Negeri di wilayah Jatibarang, Brebes yang kedapatan melakukan pembelajaran tatap muka dikarenakan ratusan siswanya tak memiliki smartphone dan tak dijangkau fasilitas internet.

Hamam mengatakan, hal ini mestinya tak terjadi kalau Bupati Brebes, Idza Priyanti serius membangun wilayah yang dipimpinnya dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di era digital yang serba cepat.

"Di masa genting begini semakin terlihat kualitas Idza memang tidak becus membangun Brebes, padahal saat ini semua kegiatan sudah dilakukan menggunakan smartphone sehingga terdengar miris jika di Brebes masih banyak keluarga yang tak memiliki smartphone," kata Hamam, Minggu (9/8/2020).

Hamam mengatakan, banyak keluarga tak memiliki smartphone serta jaringan internet yang sulit juga bukti Idza tak ada niat membangun Brebes di era moderen yang sangat cepat perkembangannya ini.

"Padahal ekonomi di sektor digital juga menjadi pendorong ekonomi kita di Indonesia, transaksi online bisa menggerakan ekonomi kecil, tapi di Brebes orang-orang masih kesulitan mencari sinyal bahkan tak memiliki smartphone yang kini menjadi barang lazim di setiap saku celana setiap orang di masa modern ini," kata Hamam.

"Kan harusnya dia mendorong warganya untuk maju dalam perkembangan digital, atau dia mendorong provider menguatkan sinyal mereka di Brebes agar masyarakat tercover dan ekonomi berbasis digital berkembang," lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, SMP Negeri 2 Jatibarang, Brebes, Jateng, hampir tiga pekan terakhir menggelar kegiatan belajar tatap muka. Pembelajaran tatap muka ini dilakukan secara diam-diam di tengah pandemi COVID-19. Pihak sekolah beralasan, pembelajaran tatap muka (PTM) ini dilandasi desakan para wali murid.

Wali murid beralasan, pembelajaran metode daring tidak bisa diikuti karena ketersediaan jaringan internet di tempat tinggal siswa yang tidak ada. Di sekolah ini, banyak siswa tinggal di daerah yang belum terjangkau jaringan internet. Kalaupun ada jaringan, itu pun sangat lemah dan tidak bisa mendukung siswa belajar daring.

Alasan lain dan paling krusial adalah banyak siswa yang tidak memiliki HP atau laptop. Menurut pihak sekolah, tidak sedikit murid di SMP Negeri 2 Jatibarang ini berasal dari keluarga tidak mampu atau menengah ke bawah.

Berdasar data dihimpun dari 960 siswa, sekitar 10-15 persen tidak memiliki HP. Mereka rata-rata dari kalangan keluarga tidak mampu atau menengah ke bawah. (*/red)