Rela Buat 12 Akun Facebook Demi Umbar Kebencian, Pria Asal Cilegon Diringkus Polisi

Rela Buat 12 Akun Facebook Demi Umbar Kebencian, Pria Asal Cilegon Diringkus Polisi (Ilustrasi/net)

NONSTOPNEWS.ID – Media sosial Facebook digunakan oleh EJ (51) pria asal Cilegon guna mengumbar kebencian dan SARA. Pelaku rela membuat 12 akun hanya untuk membuat postingan penghinaan terhadap pemerinta dan agama tertentu.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi membenarkan hal tersebut. Menurutnya Edy merupakan karyawan swasta.

"Ya benar, berdasarkan laporan polisi nomor LP/A/263/VII/RES.2.5./2021/SPKT III.Ditreskrimsus/Polda Banten Ditreskrimsus Polda Banten telah mengamankan EJ (51) pria asal Cilegon yang sehari-harinya berprofesi sebagai wiraswasta pada Rabu (14/7) lalu," kata Edy Sumardi saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (17/07/2021).

Edy Sumardi juga mengatakan bahwa postingan pelaku diduga kuat dapat menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

"Saat ini pelaku dan barang bukti satu unit handphone akun FB atas nama Edward Junaidi Antonio berikut dengan satu bundel screenshot-nya, screenshot akun FB atas nama Edward j. Frans Antonio sudah diamankan oleh petugas di Direktorat Kriminal Khusus Unit Cyber Polda Banten dan sedang dilakukan pemeriksaan", ujar Edy Sumardi.

"Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45A Ayat (2) Jo Pasal 28 Ayat (2) UU RI No.19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No.11 tahun 2008 tentang ITE," tutur Edy Sumardi.

Pelaku sendiri, kata Edy membuat akun Facebook sebanyak 12 akun namun dengan link yang berbeda. Dimana beberapa akun dipergunakan untuk menulis ujaran kebencian terhadap pemerintah atau Presiden maupun suatu agama atau SARA.

"Tersangka dikenakan Pasal 45 A Ayat (2) jo 28 ayat (2) Undang-undang RI nomor 19 tahun
2016 tentang perubahan atas Undang-undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau pasal 14 ayat 1 UU RI No 1 Tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana dengan ancaman pidana minimal 6 tahun dan maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp. 1 miliar rupiah," tandas Edy Sumardi. (red)