Mahasiswa UIN Tewas dan Jadi Tersangka, Bacawalkot Suhendar Sebut Polres Tangsel Aneh

Mahasiswa UIN Tewas dan Jadi Tersangka, Bacawalkot Suhendar Sebut Polres Tangsel Aneh
Mahasiswa UIN Tewas dan Jadi Tersangka, Bacawalkot Suhendar Sebut Polres Tangsel Aneh
(Kibo-nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Bakal Calon Walikota Tangerang Selatan (Bacawalkot) sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang, Suhendar menanggapi perihal penghentian penyidikan kasus kecelakaan truk di Jalan Graha Raya Bintaro, yang menewaskan salah seorang mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah, Niswatul Umma, pada 14 Oktober 2019 lalu.

Suhendar mempertanyakan langkah dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Kota Tangsel yang menghentikan penyidikan kasus tersebut, dan mempersalahkan korban yang dianggap lalai, atas kejadian naas itu.

“Pernyataan sebagai tersangka kepada korban yang terlindas truk adalah tidak mendasar, serta bertendensi ada kepentingan melindungi pihak tertentu. Pertama, dalam ajaran hukum pidana, hak menuntut negara hapus karena meninggal dunia (Pasal 77 KUHP), oleh karenanya menjadikannya tersangka adalah bertentangan dengan hukum,” katanya, melalui pesan Applikasi WhatsApp, Sabtu malam (16/11/2019).

Suhendar juga mempersoalkan maksud dari langkah Polres Tangsel, yang malah mempersalahkan korban dalam peristiwa tragis tersebut.

“Ketika hukum menghapuskannya, maka pertanyaannya ada maksud apa Polres Tangsel mentersangka kan? Sementara disisi lain, pengemudi truk jelas telah melakukan perbuatan melawan hukum, yaitu memuat melebihi kapasitas/tonase jalan dan mengoperasikan truk pada jalan yang tidak peruntukannya. Belum lagi, apakah truk tersebut memenuhi kriteria laik jalan, di dukung legalitas lengkap, dan sebagainya,” terang politisi yang lekat dengan gaya aktifis itu.

Suhendar juga mengaku heran, polisi tak menuntut pidana supir dan perusahaan truk soal pertanggungjawaban pada kasus tersebut.

“Menghentikan kasus ini, serta tidak menutut pertanggungjawaban pidana kepada pengemudi truk sangat aneh. Sebab melalui pengemudi itu akan terungkap, apakah atas inisiatif pengemudi pribadi atau atas perintah perusahaan/korporasi. Pada posisi ini, jelas seharusnya Polres Tangsel mengungkap secara tuntas, termasuk kepada perusahaan/korporasi dan pihak-pihak lain yang terlibat,” sambung Suhendar.

Diketahui, sebelumnya Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Kota Tangsel AKP. B. Marfiando menjelaskan, bahwa pengehentian penyidikan kasus kecelakaan tragis ini, berlandaskan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), dimana supir truk tidak bisa dibuktikan bersalah.

“Pada kenyataannya dari pihak almarhum (Korban) memang posisinya lemah, jadi korban ini karena kelalaiannya lah yang menyebabkan dia meninggal dunia. Karena, sudah dijelaskan kronologisnya diamana korban ini akan menyalip, celanya tidak dapat akhirnya terseret kendaraan truk. Sudah dilakukan olah TKP, dari hasil TKP itu memang supir truk ini tidak bisa dibuktikan bersalah,” jelas dia diruangannya, di Markas Polres Tangsel, Jalan Promoter BSD City, Jum’at (15/11/2019). (kibo)