Anies Klaim Tes PCR DKI Lampaui Target WHO, Pengamat: Tak Ada Niat Baik Cegah Corona

Anies Klaim Tes PCR DKI Lampaui Target WHO, Pengamat: Tak Ada Niat Baik Cegah Corona
Anies Klaim Tes PCR DKI Lampaui Target WHO, Pengamat: Tak Ada Niat Baik Cegah Corona
(Ilustrasi/Net)

NONSTOPNEWS.ID - Pemprov DKI Jakarta jangan hanya kejar target pelaksanaan tes PCR (polymerase chain reaction). Warga Ibu Kota butuh kehadiran Pemprov DKI Jakarta dalam mengantisipasi dan mencegah penyebaran virus Covid-19. Bukan sekedar jumlah atau angka - angka pasien positif corona.

Begitu dikatakan Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto, menyayangkan Pemprov DKI yang terkesan hanya kejar target pelaksanaan PCR semata. Tanpa ada tindaklanjut pencegahan virus mematikan asal Wuhan, China itu.

“Saat ini yang dibutuhkan warga DKI adalah kerja - kerja Pemprov dalam mencegah dan mengantisipasi penyebaran Covid -19. Percuma tes dilakukan kalau pencegahannya nggak ada,” ujar Sugiyanto.

Salah satu bukti bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak punya niat baik dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 adalah ketidaktransparan Pemprov atas zona atau wilayah mana saja yang terdapat pasien positif corona.

Padahal, hal tersebut sangatlah penting. Sebab, dengan mengetahui pasien positif corona di wilayah atau lingkungannya, warga minimal bisa lebih berhati - hati dan meningkatkan pelaksanaan protokol kesehatan di wilayah tersebut.

"Warga diimbau menerapkan protokol kesehatan, tapi warga sendiri tak tahu wilayah mana yang zona merah Covid-19, mana yang zona kuning dan mana yang hijau," ungkapnya.

SGY menyarankan, jika warga telah menjalani tes dan ada yang dinyatakan positif, maka Pemprov mestinya melakukan tracing atau pelacakan untuk mengetahui dengan siapa orang yang positif Covid-19 itu melakukan kontak sehingga tertular, dan dengan siapa dia kemudian berinteraksi.

"Setelah itu, lakukan treatmen agar orang yang positif Covid-19 tidak menularkan lagi ke orang lain, misalnya dengan melakukan isolasi mandiri di rumah atau dirawat di rumah sakit," imbuh SGY.

Aktivis berkacamata ini nilai, hingga hari ini test yang dilakukan Pemprov DKI sebenarnya masih rendah, karena dari sekitar 12 juta penduduk Jakarta, tes baru dilakukan terhadap 459.094 orang atau 3,4%.

"Kalau dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain, tes PCR yang dilakukan DKI memang yang terbanyak. Karena total tes yang dilakukan di 34 provinsi hingga Minggu (9/8), sebanyak 972.594 orang dan dari jumlah tersebut 47% di antaranya (459.049 orang) di lakukan di DKI Jakarta.

Seperti diketahui, WHO menetapkan standar jumlah tes PCR adalah 1.000 orang per 1 juta penduduk per minggu, sehingga dengan standar tersebut, Jakarta harus melakukan pemeriksaan PCR minimum pada 10.645 orang (bukan spesimen) per minggu, atau 1.521 orang per hari. Dengan jumlah orang yang telah menjalani tes PCR hingga hari ini, Jakarta mengklaim telah melakukan tes PCR hingga 4 kali lipat dari standar WHO dalam sepekan.

Meski demikian, seiring meningkatnya jumlah tes PCR, jumlah pasien positif Covid-19 di DKI Jakarta pun melejit kembali mengalahkan Jawa Timur yang selama beberapa hari sempat menyalip DKI dan menduduki peringkat pertama dalam jumlah pasien positif Covid-19 secara nasional.

Per hari ini, Selasa (11/8), jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia menurut data covid19.go.id sebanyak 128.776 orang dimana 5.824 orang di antaranya meninggal dunia dan 83.710 orang dinyatakan sembuh. Dari jumlah itu, Jakarta menyumbang 26.162 pasien, bertambah 471 orang dibanding Senin (10/8); disusul Jawa Timur (25.626 pasien); Jawa Tengah (10.679 pasien); Sulawesi Selatan (10.531 pasien); dan JawaBarat (7.599 pasien).
( RadarNonstop)