Benyamin Bukanlah Airin

Benyamin Bukanlah Airin
Istimewa

NONSTOPNEWS.ID - Lewat tangan dingin Airin Rachmi Diany, pasangan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan dipastikan keluar sebagai pemenang dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Terpilihnya Wakil Wali Kota Benyamin Davnie sebagai Wali Kota Tangsel selanjutnya, adalah bukti betapa piawainya Airin dalam memainkan setiap nada dan irama politik di Kota berslogan cerdas, modern, dan religius.

Jelas sudah, Airin bukan politisi kalen-kaleng. Di masa kepemimpinannya selama dua periode, jelas terlihat bagaimana Airin dengan apik mengharmonisasi jalannya pemerintahan, dimana setiap unsur, mulai dari eksekutif, legislatif, yudikatif, pers, hingga unsur masyarakat lain, nyaris seluruhnya berpadu dalam satu alunan pembangunan.

Airin berbeda dengan Benyamin, dengan segala kekurangan dan kelebihan, kebaikan dan keburukannya, justru banyak pihak menyebutkan dia telah berhasil membangun Kota Tangsel.

Benyamin yang sebelumnya hanya sebagai wakilnya Airin, pada 2021 nanti akan dilantik menggantikan posisi Airin, menjadi pemimpin salah satu kota penyangga Ibukota Jakarta.

Benyamin pastinya tak sama dengan Airin, sepuluh tahun medampingi Airin, Benyamin bisa dibilang hanya pembackup. Hingga menjelang akhir masa jabatannya sebagai Wakil walikota periode 2016-2021, tidak pasti diketahui sebarapa andil Benyamin dalam setiap keputusan terkait kebijakan-kebijakan di Pemerintah Kota Tangsel.

Disisi lain, meski rekam jejak dan pengalamannya tidak diragukan. Namun, harus dicatat, bahwa Benyamin maju mencalonkan diri jadi Wali Kota hanya di usung satu partai, yakni Partai Golkar, yang memiliki sepuluh dari total 50 kursi di parlemen Kota Tangsel.

Selain fraksi Golkar, cara pandang fraksi-fraksi lain di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangsel terhadap kepemimpinan Benyamin pastinya berbeda dengan pada saat jajaran eksekutif dipimpin oleh Airin.

Meski kursi Ketua DPRD Tangsel diduduki oleh Golkar. Namun, hitung-hitungan 10 melawan 40 kursi jelas bukan sebuah hal mudah, pada momen dimana pengambilan keputusan sebuah kebijakan yang melibatkan ekskutif dan legislatif.

Beberapa waktu lalu, pada saat proses pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun anggaran 2020, dan pembahasan APBD tahun anggaran 2021 berjalan mulus. Padahal, pembahasannya bersamaan dengan perhelatan Pilkada, dimana Benyamin maju sebagai calon Wali Kota yang di usung oleh Golkar.

Hal itu terjadi, kemungkinan besar karena masih adanya sosok Airin sebagai Wali Kota Tangsel. Fraksi-fraksi lain bisa saja masih memandang Airin, bisa juga sebagai bentuk penghargaan terakhir untuk Airin di akhir masa jabatannya.

Menarik untuk ditunggu, setelah dilantik, nantinya bagaimana Benyamin memimpin Kota Tangsel. Seperti apa Benyamin mengahadapi dinamika antara eksekutif dan legislatif.

Kemudian, bagaimana Benyamin mengharmonisasikan unsur-unsur Pemirintahan, baik vertikal maupun horizontal. Lalu, dapatkah dia mengakomodir semua kepentingan-kepentingan internal dan eksternal, dan pastinya masih banyak pertanyaan yang timbul jika melihat kedepannya nanti.

Pada akhirnya, seumpama tukang cilok ditanya soal pandangannya terhadap Airin dan Benyamin, mungkin tukang cilok itu akan berani angkat bicara, bahwa Benyamin bukanlah Airin. Jawabanya bisa saja, Airin cantik, Benyamin tidak cantik, Airin begitu mempesona, Benyamin mungkin biasa saja.

Oleh: Hari. W (Kibo)
Pemimpin Redaksi Nonstopnews.id


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS