Sambut Ramadhan, WH Gelar Ruwahan dengan Jalan Santai Bersama Tetangga Sekitar

(ak|nonstopnews.id)

TANGERANG - Menyambut bulan ramadhan yang dinantikan umat islam, Gubernur Banten, Wahidin Halim bersama tetangga sekitar rumah pribadinya menggelar jalan santai dan doa bersama, Minggu (13/5/2018).

Kegiatan yang digelar secara spontan ini, diikuti ribuan warga Pinang yang sebagian besar tinggal di Jalan H. Jiran, Pinang Kota Tangerang. Acara dipusatkan di lapangan yang berlokasi disebelah rumah pribadi WH , dengan panggung kecil yang dipenuhi banyak hadiah.

Kegiatan dimulai sekira pukul 07.00 WIB, diikuti warga yang kebanyakan kaum muda dan ibu-ibu, diakhiri bagi-bagi hadiah, dari mulai kipas angin, kompor gas, dispenser sampai uang tunai bagi yang bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Yanah, seorang ibu rumah tangga yang ditemui mengatakan, bersyukur acara ruwahan menyambut ramadhan diadakan   meriah.

"Alhamdulillah, menghadapi ramadhan jadi semangat dengan adanya kegiatan ini. Badan sehat, apalagi dapat hadiah hehe," ujar Yanah, sambil tersenyum.

Hampir sama yang dikatakan Dewi, gadis berambut panjang yang bersama tiga temannya ini, antusias mengikuti jalan santai.

"Seneng sih, acara kek gini musti rutin kak," ujarnya.

Panitia acara ini, H Syarifuddin mengatakan, kegiatan ini digelar karena dorongan semangat menyambut ramadhan.

"Pak WH kan selalu guyub sama tetangga. Jadi momentum menyambut ramadhan, kita buat kegiatan gerak jalan," kata ketua pelaksana ini.

Sementara itu, dalam sambutannya ketika doa bersama, WH mengucapkan terima kasih kepada warga yang datang dan mengikuti acara ruwahan ini. 

"Terima kasih sudah pada datang. Buat kita silaturahmi sama tetangga semakin akrab. Ini bagian dari kita gembira dengan datangnya bulan suci ramadhan. Tradisi baik yang harus kita lestarikan, dengan mengirim doa kepada orang tua dan saudara kita yang sudah meninggal," pungkas WH.

Sekedar informasi, tradisi ruwahan lazim diperingati sebagian besar masyarakat Indonesia. Biasanya dilakukan dengan mengeluarkan sedekah dengan membuat hidangan, lengkap dengan lauk pauknya. Hidangan tersebut lalu dibagi-bagikan kepada sekitar. 

Setelah melakukan sedekah, acara pun dilanjutkan dengan mengunjungi dan membersihkan makam keluarga sebagai  bentuk penghormatan bagi keluarga atau leluhur yang sudah meninggal dunia.

Meskipun ruwahan dilakukan sebagian masyarakat Indonesia beragama Islam menjelang ramadhan, ruwahan itu tidak wajib karena tidak ada dalam ajaran Islam.

Ruwahan bisa menjadi perbuatan mulia, bila mereka mendoakan atau mengirim doa kepada Allah untuk orang yang sudah meninggal dan melakukan sedekah dengan memberi makan kepada sesama. (ak)