Pengamat : Calon Tunggal Dan Pragmatisme, Diprediksi Partisipasi Pemilih Turun Drastis 

Istimewa

TANGSEL - Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), di Kota dan Kabupaten Tangerang, tercipta obrolan santai dengan pengamat Kebijakan Publik, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Djaka Badranaya.

Djaka mengatakan, dengan sikap 'borong' partai, atau calon kepala daerah tunggal, merupakan bentuk arogansi petahana. Bagaimana tidak, imbuhnya, dengan tindakan tersebut, para pesaing petahana menjadi enggan maju dalam perhelatan lima tahunan itu.

"Dengan borong partai, itu bentuk arogansi petahana terhadap demokrasi," kata Djaka di lokasi kantin, Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangsel, Jumat (11/05/2018).

Djaka menambahkan, saat dirinya mengamati kondisi politik di Kabupaten Tangerang, tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2018, pada Juni mendatang, bisa terbilang rendah. Terkait data, Djaka mengusulkan agar jurnalis meminta data kepada KPU Kabupaten Tangerang.

"Kalau saya amati, tingkat pemilih di Kabupaten Tangerang cukup rendah, ngga tahu kalau di Kota Tangerang. Dengan sikap dan pemikiran 'yang penting gua menang' atau sikap pragmatis tadi, tingkat partisipasi pemilih sudah tidak menjadi hal yang sangat penting lagi. Namun menurut saya, menang dengan tingkat partisipan rendah, bukan hal yang menarik," tegasnya.

Dengan diborongnya Partai Politik (Parpol) di dua daerah tersebut, tambah Djaka, merupakan penurunan demokrasi. Hal itu, dikarenakan, tidak terciptanya kontestasi dalam berpolitik.

"Kalau petahana dinilai dari prestasinya, sehingga Parpol merapatkan barisan kepada petahana, maka itu hal yang sangat bagus. Tapi, kalau merapat karena kemungkinan gagal atau kalah dengan petahana, berarti politik dan demokrasi kita sedang mengalami penurunan. Karena dengan sikap 'takut kalah', maka kontestasi tertutup bagi kader atau calon yang hendak memperbaiki daerah, yang mungkin belum dilakukan oleh petahana," pungkasnya.

Hal senada disampaikan Peneliti Institut Peradaban Jakarta, serta kandidat Doktor Ilmu Politik USM Malaysia, Zaki Mubarok. Zaki menyatakan, sikap pragmatis para Parpol, membuat demokrasi di beberapa kota/kabupaten, merosot. Dengan dalih, tidak ingin mengeluarkan tenaga dan pemikiran yang banyak, membuat sikap 'borong partai' petahana menjadi hal yang maklum.

"Ada 2 penjelasannya, pragmatisme politik parpol dan biaya politik untuk pilkada yang sangat tinggi. Jadi sejumlah parpol menawarkan diri untuk 'diborong' yang penting harganya jelas. Dalam pandangan mereka yang penting dapat benefit, syukur syukur nanti kebagian jabatan dalam dinas dinas daerah. Juga pragmatisme, karena Parpol parpol mulai keropos ideologinya, dan gagal menciptakan kader kader politisi yang berbobot, maka mereka cenderung tidak mengajukan calon, karena yakin akan kalah. Karena itulah pragmatisme diambil, mendingan gabung dengan incumbent yang potensial menang, ngga habis tenaga dan biaya untuk kampanye, apalagi incumben biasanya punya sumber finansial yg kuat," katanya lewat pesan whatsappnya.

"Ya dimana-mana kalo yang maju hanya satu calon, partisipasi pemilih akan turun. Tidak ada kompetisi. Partisipasi akan naik, bila kandidat kandidat yang ada bersaing ketat, Ini kan lawannya hanya kotak kosong," tandasnya. (ak)