1 Tahun Pimpin Banten, Puluhan Mahasiswa Demo Sebut WH-Andika Gagal

(dr|nonstopnews.id)

SERANG -  Puluhan mahasiswa menggelar aksi demo di depan Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Curug, Kota Serang, Senin, (14/5/2018).

Dengan membawa spanduk putih bertuliskan “Satu tahun WH-Andika gagal", dan beberapa bendera, para mahasiswa menyebut Pemrov Banten dibawah pimpinan Wahidin Halim- Andika Hazrumy, telah membohongi rakyat.

Puluhan mahasiswa tersebut berasal dari Komunitas Soedirman (KMS30), Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) PW Serang,  PP Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DPD Banten, Kumandang Banten, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pandeglang, HMI FKIP Untirta, HMI Komisariat FSEI, LMND Ekot Pandeglang, dan Permahi DPC Banten.

“Pada 12 Mei 2018, kepemimpinan WH-Andika telah memasuki usianya satu tahun. Namun, masyarakat Banten harus kembali menahan sabar atas kegagalan WH-Andika selama satu tahun dalam membangun Provinsi Banten,” kata Sobirin, koordinator aksi dari Kumala dalam orasinya.

Ia menyebut, janji kampanye dengan komitmen membangun Banten hanya ilusi belaka, tidak heran jika upaya pembangunannya dalam sektor birokrasi, pendidikan kesehatan dan infrastrtuktur hanya jalan ditempat dan statis tanpa ada tindakan  kongkrit.

“Dalam kenyataan objektif  Provinsi Banten tidak ada perubahan signifikan, menunjukan ketidakpercayaan publik terhadap pemimpinnya. Semangat perubahan yang dimunculkan WH-Andika saat kampanye nampaknya hanya sebatas angan-angan saja bagi kita semua,” ujar Sobirin.

Lanjutnya, diamnya WH-Andika atas keterlibatan Sekda Banten, Ranta Soeharta dalam dinamika Pilkada Kota Serang 2018 juga melihatkan ketidaktegasan.

"Padahal, hasil Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) menunjukan adanya pelanggaran yang dilakukan Sekda Banten, Ranta Soeharta atas PP No 42 tahun 2004 terkait safari politiknya,” beber Sobirin.

Kemudian, soal pendidikan gratis di tingkat SMA/SMK yang dijanjikan hanya sebatas mimpi bagi masyarakat Banten, karena realitas yang terjadi di lapangan pendidikan grayis di tingkat SMA/SMK belum terasa secara keseluruhan.

“Yang artinya dalam satu tahun ini gagal di wujudkan,” cetus Sobirin.

Masih tentang kegagalan WH-Andika,  soal kesehatan gratis dengan menggunakan KTP gagal direalisasikan karena berbenturan dengan peraturan pusat. Selanjutnya infrastruktur pembangunan jalan sepanjang 100 km yang akan dibangun pada tahun 2018 belum sama sekali dilakukan, bahkan proses pelelangannya mangkrak, yang artinya gagal.

“Seharusnya Gubernur dan Wakil Gubernur Banten mampu membuktikan kepada publik atas amanah yang diberikan kepadanya. Andika sebagai wakil gubernur pun harus bekerja keras dalam mendorong kebijakan publik yang diupayakan gubernur, sehingga tidak terkesan sembunyi dalam legitimasi gubernur,” tutur Sobirin yang juga Mahasiswa UIN Banten ini.

Senada dengan Sobirin, Koordinator KMS30, Fakih Helmi mengatakan, yang paling miris terjadi di Banten yaitu masifnya penduduk miskin dan akutnya pengangguran yang terjadi. Sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Banten kenaikan angka kemiskinan semakin bertambah, pada Maret 2017 ada 675,04 ribu penduduk miskin. Namun di September 2017 penduduk miskin bertambah sebanyak 24,79 ribu orang, sehingga menjadi 699,83 ribu orang.

“Untuk tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 9,28 persen nomor 2 tertinggi se Indonesia,” ujarnya.

Dengan persoalan kompleksnya masalah yang ada di masyarakat, mahasiswa yang tergabung dalam Geram ini menuntut dan mendesak WH-Andika sebagai berikut:   

- Mewujudkan reformasi birokrasi di tubuh Pemerintahan Provinsi Banten

-Entaskan kemiskinan dan pengangguran di Provinsi Banten

-Realisasikan pendidikan gratos di tingkat SMA/SMK di Provinsi Banten

-Realisasikan kesehatan gratis untuk rakyat Banten

-Percepat ppembangunan jalan Provinsi Banten.

Pantauan Nonstopnews.id, aksi yang dimulai pukul 15.00 WIB itu diakhiri dengan cara puluhan mahasiswa mundur dari pintu gerbang dan dilanjutkan dengan menggelar teatrikal di depan tugu KP3B, selanjutnya puluhan mahasiswa ini pun membubarkan diri. (dr/ibc)