Wujudkan Visi Berakhlakul Karimah, Gubernur Banten Keluarkan Surat Edaran Shalat Berjamaah

Wujudkan Visi Berakhlakul Karimah, Gubernur Banten Keluarkan Surat Edaran Shalat Berjamaah ((istimewa))

SERANG - Gubernur Banten Wahidin Halim mengeluarkan surat edaran tentang Gerakan Berjamaah Shalat Fardhu Lima Waktu Berjamaah.

Surat edaran yang diteken Selasa (30/10/2018) ini, ditujukan kepada aparatur negeri sipil (ASN) dan pegawai pemrov Banten, sebagai salah satu upaya peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

WH rupanya tak ingin visi provinsi Banten yang berAkhlakul Karimah hanya sebagai slogan saja. Tetapi dijalankan sesuai kebutuhan yang pokok dan ini disambut positif berbagai kalangan khususnya para ASN di lingkungan Provinsi Banten.

"Gerakan Berjamaah Shalat Fardhu Lima Waktu di Masjid atau Mushala, dengan menghentikan atau menunda berbagai kegiatan saat masuk waktu shalat bagi seluruh pegawai ASN yang beragama Islam," kata WH.

WH juga berharap implementasi surat edaran ini dijalankan dan disosialisasikan oleh ASN.

“Kalau sedang rapat atau ada tamu, ajak sekalian tamu atau peserta rapat nya untuk shalat berjamaah,” pinta Gubernur.

Demikian pula saat sedang bekerja, pinta gubernur, khususnya di waktu dzuhur dan ashar, pimpinan unit kerja harus mengajak stafnya untuk shalat berjamaah dan menghentikan atau menunda segala aktifitas bekerja dan segera ke masjid.

"Jika sedang ada pelayanan kepada masyarakat, sampaikan baik-baik kepada pemohon layanan itu," ujarnya.

Diketahui, sejak pertama dilantik menjadi Gubernur tahun 2017, WH memang kerap meninggalkan rapat atau acara untuk melaksanakan shalat. Biasanya ia tinggalkan tanpa ijin atau tanpa diketahui peserta rapat, dan usai melaksanakan shalat ia kembali memasuki ruangan dan bergabung kembali dalam acara. Demikian halnya saat tidak ada kegiatan, ia ajak seluruh ajudan, humas,  bahkan patwal ke masjid AlBantani dengan menggunakan mobil listrik yang ia kendarai sendiri.

Hal serupa ia terapkan pula di Rumah Dinas Gubernur, di Jalan Ahmad Yani Serang, di mana suasana rumah dinas hampir boleh dikatakan menyerupai pesantren. Di mushola secara bergiliran ada jadwal adzan dan imam, bahkan sering ketika subuh gubernur yang membangunkan para staf yang masih tidur untuk berjamaah. (*)