Usia 18 Tahun, Kemiskinan Pendidikan dan Infrastruktur Masih Jadi Masalah Kronis di Banten

Usia 18 Tahun, Kemiskinan Pendidikan dan Infrastruktur Masih Jadi Masalah Kronis di Banten (Istimewa)

SERANG - Hal itu mengemuka dalam "Obrolan Mang Fajar”, disalah satu kantor media lokal Banten, Kabar Banten, Kamis (27/9/2018).

Di usianya yang sudah memasuki 18 tahun, Provinsi Banten masih dililit banyak masalah. Jika tak ditangani serius, persoalan ini akan semakin sulit diatasi. 

“Provinsi Banten kini sudah 18 tahun, usia yang dibilang sudah cukup dewasa setelah melewati usia remaja. 18 tahun tentu telah melewati riwayat perjalanan yang beragam,” kata Iif Rifai, tokoh muda Banten. 

Sejatinya, kata Iif, kue pembangunan yang telah diracik pemerintah dapat bisa dicicipi warga Banten dengan suka ria. Namun, persoalan kemiskinan dan kesejahteraan juga pendidikan serta kesehatan masih menjadi problem bagi warga Banten.

“Angka kemiskinan tak cukup efektif menurun. Pendidikan gratis juga belum 100 persen dicicipi anak sekolah. Pungutan liar sana sini masih ada dan berlaku di beberapa sekolah,” tambahnya.

Menurut Iif, kesehatan masih juga menjadi persoalan masyarakat. Warga Banten belum bebas menikmati BPJS dengan gampang.

"Harapan warga Banten, di usia 18 tahun ini semoga menjadi lebih baik. Angka kemiskinan bisa menurun, pengangguran menurun,” ujarnya.

Selain itu, kata Iif, pendidikan gratis tak lagi sebagai wacana dan alat kampanye bagi penguasa. Pelayanan kesehatan lebih mudah diakses. 

Ditegaskannnya, paling kentara adalah soal infrastruktur. Usia 18 tahun, seharusnya soal jalan, khususnya, sebagai media transportasi menjadi prioritas pembangunan. Jalan adalah gerbang ekonomi pembangunan. 

“Akses-akses jalan milik provinsi menuju perdesaan seharusnya tak ada yang terlihat rusak dan awut-awutan, rusak mangkrak tak terlihat ada perbaikan,” tegasnya.

Dikatakan, perdesaan sebagai sumber penghasil hasil bumi diberikan jalan yang bagus agar ekonomi kian berkembang dan maju. Hasil bumi perdesaan harus ditopang oleh pembangunan infrastruktur yang baik juga. 

“Kesejahteraan semoga menjadi mimpi nyata bagi warga Banten,” ungkapnya.

Selain Iif, tokoh yang hadir antara lain anggota DPR RI Ei Nurul Khotimah, Wakil Ketua DPRD Banten Nur’aeni, mantan Sekda Banten Ranta Soeharta, pemenang lomba logo Banten Onny Sanwani, wartawan saksi sejarah pembentukan Provinsi Banten Kotib Mansur, Ketua Gerakan Pemuda Reformasi Indonesia (GPRI) Rosadi, dan Pembina Komunitas Rumah Hutan, Lim Oei Ping. (*/red)