Tsunami Masih Hantui Banten, Tetap Tenang dan Waspada

Tsunami Masih Hantui Banten, Tetap Tenang dan Waspada
Tsunami Masih Hantui Banten, Tetap Tenang dan Waspada
(Nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Gunung Anak Krakatau masih bergejolak. Untuk itulah warga diminta menghindari pantai karena ada potensi tsunami susulan.

Hingga kemarin malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan korban akibat bencana tsunami Selat Sunda yang melanda pesisir Banten dan Lampung Selatan 429 orang meninggal dunia, dan 1.485 orang mengalami luka-luka.

Lalu, 154 orang hilang, 162.082 orang mengungsi. Dan  882 unit rumah mengalami kerusakan, 73 penginapan rusak hotel dan villa, 60 warung dan toko, 24 kendaraan roda empat, 434 perahu dan kapal rusak, 1 dermaga rusak dan 1 Shellter rusak.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat agar menghindari lokasi pesisir atau pantai dalam radius 500 meter hingga 1 kilometer. Ini lantaran Gunung Anak Krakatau yang terpantau masih erupsi.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, terus melakukan pemantauan kondisi aktivitas tremor Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. Dia mengatakan, seluruh kondisi tersebut dapat sewaktu-waktu mengakibatkan longsor tebing kawah Gunung Anak Krakatau ke laut.

"Dan dikhawatirkan dapat berpotensi memicu tsunami," kata Dwikorita saat jumpa pers di kantor BMKG, Jl Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (25/12/2018) malam.

Kondisi erupsi dan tremor serta potensi cuaca ekstrem hingga gelombang tinggi masih terus terjadi. Saat ini BMKG terlah mengembangkan aplikasi sistem pemantauan yang memusatkan pada aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Anak Gunung Krakatau.

Informasi terbaru dan tepat bisa dipantau masyarakat lewat aplikasi mobile 'infoBMKG' dan 'MAGMA Indonesia'.

"Jadi kami menyadari dalam situasi seperti ini selalu muncul isu yang menyesatkan. Maka agar tidak tidak mudah bingung dan terombang-ambing dengan isu tersebut, mohon segera cek baik situs maupun sosial media BMKG atau aplikasi mobile InfoBMKG dan aplikasi MAGMA Indonesia," katanya. (radarnonstop)