Truk Salahi Jam Operasional Tewaskan Mahasiswi UIN, Polres Tangsel Salahkan Korban

Truk Salahi Jam Operasional Tewaskan Mahasiswi UIN, Polres Tangsel Salahkan Korban (Kibo-nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Kepolisian Resor (Polres) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menghentikan penanganan kasus kecelakaan antara truk dengan pemotor beberapa waktu lalu, yang menewaskan mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah bernama Niswatul Umma.

Langkah tersebut dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan fakta dilapangan, dimana Polres Kota Tangsel menganggap kecelakaan terjadi akibat kelalaian korban.

“Sudah kita tanganin, fakta dilapangan lemahnya, yang lalainya motor, padahal pihak motor itu lah yang korban menjadi meninggal, kita hanya bisa mediasi dari pihak truk untuk membantu pihak korban dengan musyawarah,” kata Kepala Unit Kecelakaan Lalulintas Polres Tangsel Iptu. Dhady Arsya, diruangannya, Markas Polres Tangsel, Jalan Promoter BSD City, Rabu (13/11/2019).

“Itu dilihat dari gambarnya, ini yang A mobil truk berhenti, B juga mobil truk, ini sama-sama beriringan, kemudian ditabrak persis  di spakboard truk yang lagi berhenti, sehingga dia jatuh dan melintir. Bersamaan dengan itu masuk kedalam kolong antara dua ban belakang, sehingga dia terseret 14 meteran, karena nggak tau sopirnya bahwa ada motor, dia hanya mendengar teriakan,” terang Dhady, menjelaskan, sambil menunjuk papan kaca diruangannya, yang menggambarkan ilustrasi terjadinya kecelakaan tersebut.

Dikatakan Dhady, paska terjadi kecelakaan supir truk sempat diamankan, namun tidak adanya cukup bukti sebagai tersangka, supir truk pun sudah dibebaskan.

Sementara itu, Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Tangerang Raya, menanggapi langkah Polres Tangsel, perihal dihentikannya penanganan kasus ini.

“Tidak cukup barang buktinya seperti apa?, kan tidak jelas, tidak pula dibuka secara terang benderang kan. Seperti idientitas kendaraan angkutan itu juga tidak jelas, bagiamana truk dengan muatan besar bisa beroperasi pada waktu yang tidak seharusnya,” kata, Direktur LKBH Permahi Tangerang raya, Rizwan Darmawan, melalui pesan Aplikasi WhatsApp.

Dikatakan Rizwan pula oleh Rizwan, bahwa dalam kasus kecelakaan lalu lintas itu masuk dalam delik biasa. Sebagaimana diatur di Pasal 232 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

“Jika korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Pengemudi, pemilik, dan/atau perusahaan angkutan umum wajib memberikan bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman, dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana,” ujarnya.

“Hal itu juga diperkuat denga  yurisprudensi Putusan MA No. 1187 K/Pid/2011. Bahkan dalam Putusan MA No. 2174 K/Pid/2009. Pada kasus Niswatul Umma ini, walaupun kedua belah pihak sudah berdamai, harusnya proses hukum tetap berlanjut,” tutup Rizwan. (kb)