Terpengaruh Video Porno di HP, Anak SD Cabuli Adik Kelas

Terpengaruh Video Porno di HP, Anak SD Cabuli Adik Kelas ((Ilustrasi/Net))

SERANG - Nahas benar nasib dua bocah perempuan berusia 6 tahun ini. Warga Kecamatan Serang, Kota Serang ini diduga menjadi korban kekerasan seksual. Ironisnya, kasus pelecehan seksual ini dilakukan oleh kakak kelasnya yang masih duduk dikelas V.

Kapolres Serang Kota, AKBP Komarudin membenarkan adanya laporan dugaan kekerasan seksual terhadap dua bocah perempuan yang dilakukan oleh siswa SD. Dari keterangan yang diperoleh, pelaku melakukan perbuatan itu karena terpengaruh tayangan porno yang ada pada android dan warnet.

"Kata pelaku dia tergiur dari tontonan internet," kata Kapolres kepada wartawan saat konferensi pers di Mapolres Serang Kota, Kamis, (19/7/2018) sore.

Menurut Komarudin, dari hasil visum yang diporeh rumah sakit, kedua bocah perempuan itu terdapat luka lecet pada alat vitalnya namun tidak sampai merusak selaput dara.

"Untuk pelaku kita juga sudah berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (TP2TP2A). Untuk orangtua, harus bisa mengawasi dan membatasi penggunaan telepon genggam pada anak," jelasnya didampingi Kasat Reskrim, AKP Richardo Hutasoit.

Sementara itu, Richardo Hutasoit mengatakan meski memiliki bukti perbuatan pelaku, pihaknya tidak bisa melakukan penahanan. Hal itu sesuai dengan undang-undang nomor 3 tahun 2012 tentang Perlindungan Anak dan UU nomor 3 tahun 1997 yang telah direvisi MK tahun 2010 tentang batas usia anak yang boleh divonis di pengadilan.

"Tidak dilakukan penahanan, bukan berarti tidak diproses. Proses tetap berjalan, tetapi tidak dilakukan upaya hukum penahanan," katanya.

Diperoleh keterangan, dua bocah perempuan diduga menjadi korban pemerkosaan oleh dua orang tetangganya yang juga siswa kelas V sekolah dasar di Kota Serang.

AS, orangtua korban mengatakan, kejadian yang menimpa anak perempuan dan anak perempuan tetangganya itu terjadi pada Juni 2018 lalu saat bulan Ramadan. Dugaan pemerkosaan itu terjadi di sebuah lapangan sepak bola tak jauh dari rumah korban.

"Waktu itu saya sedang nonton TV di rumah. Kejadiannya malam hari saat warga salat Tarawih. Saat pulang anak saya nangis, dan mengeluh sakit di bagian alat vitalnya. Setelah cerita, sontak saya nangis sambil teriak-teriak," kata AS.

AS menjelaskan, saat anaknya menceritakan kejadian itu, korban pencabulan atau perkosaan tersebut bukan hanya dialami anaknya. Tapi juga teman sepermainan anaknya menjadi korban. 

"Pelakunya dua orang, sama-sama kelas V SD dan korbannya juga dua orang," jelasnya.

Mendengar cerita anaknya tersebut, AS mengaku sudah mendatangi kedua orangtua pelaku. Akan tetapi, orangtuanya tidak memberikan respons apapun. Bahkan tidak ada itikad baik untuk meminta maaf kepada keluarganya. Karena masih tidak ada respons, AS menambahkan, pihaknya akhirnya melaporkan kejadian itu dan membawa putrinya ke Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Serang Kota. (ibc/am)