Tawarkan Via Medsos, Sindikat Penjual Satwa Liar Diringkus Polrestro Jakbar 

Tawarkan Via Medsos, Sindikat Penjual Satwa Liar Diringkus Polrestro Jakbar  ((ak|nonstopnews.id))

JAKARTA - Polres Metro Jakarta Barat mengungkap jaringan penjual satwa liar yang dilindungi negara. Jaringan tersebut biasa menawarkan satwa melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edy Sitepu mengatakan, ada lima orang yang ditangkap karena diduga tergabung dalam sindikat tersebut. Mereka ditangkap di wilayah sekitar Jakarta Barat pada tanggal 16 Juli dan 17 Juli 2018.

"Para pelaku mempromosikan binatang langka itu (lalu) menjualnya lewat akun media sosial dan mengirimnya menggunakan ojek online dan bus antarkota,” ucap Edy di Mapolres Metro Jakarta Barat, Selasa (31/7/2018) kemarin.

Dari tangan pelaku, lanjut Edy, polisi berhasil mengamankan 2 ekor burung elang brontok fase terang, 4 ekor burung elang alap-alap kawah, 1 ekor burung elang laut, dan 1 ekor buaya muara.

AKBP Edy mengatakan, pengiriman satwa langka tersebut dilakukan dengan cara membungkus dengan kemasan yang tidak mencurigakan. 

“Pengiriman barang dilakukan dengan membungkus satwa dengan kemasan yang tidak mencurigakan. Seperti dengan dilapisi kain dan dimasukkan ke dalam kardus,” ungkapnya.

Untuk menutupi kegiatan ilegalnya, jaringan penjual satwa liar tersebut memiliki cara tersendiri. Para penjual satwa liar dan pembeli tidak saling mengenal karena mekanisme pembayaran dilakukan melalui rekening penampung.

“Selain itu sindikat jaringan ini mewajibkan agar si pembeli dan penjual tidak saling mengetahui lokasi asalnya masing-masing, dengan tujuan agar si pembeli dan penjual tidak saling kenal, serta menghindari penangkapan polisi,” kata Edy.

Dari pengakuan pelaku, satwa liar langka itu dijual dengan harga yang beragam mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 20 juta.

Atas perbuatannya, pelaku dikenai pasal 40 Ayat 2 21 Ayat 2 huruf A Juncto Pasal 33 Ayat 3 Undang-undang Republik Indonesia 5 Tahun 1999 Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. (ak)