Tangsel Jadi Lahan Empuk Penipuan Rumah Syariah Tanpa Riba

Tangsel Jadi Lahan Empuk Penipuan Rumah Syariah Tanpa Riba ()

NONSTOPNEWS.ID - Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi lahan empuk untuk menjual rumah. Sebab, daerah penyangga ibukota Jakarta itu sudah berubah menjadi kota urban berskala internasional. Dengan kondisi seperti itu, juga menjadi ladang bagi oknum melakukan penipuan. Tak kurang sebanyak 3.680 orang jadi korban penipuan berkedok perumahan syariah.

Hal itu diungkap oleh Ditreskrimsus Polda Metro Jaya yang kembali membongkar sindikat penipuan atau penggelapan dengan modus penjualan rumah syariah. Dari sindikat itu, polisi meringkus empat tersangka yakni inisial MA, SW, CB, dan S.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan sindikat tersebut telah berhasil menipu 3.680 korban dengan total kerugiannya mencapai Rp40 miliar.

"Para tersangka menawarkan perumahan harga murah dengan iming-iming perumahan syariah: harganya murah, tanpa riba, tanpa cek bank sehingga masyarakat tertarik," tutur Gatot di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/12/19).

Kapolda Gatot menyampaikan dalam menjalankan aksi penipuan itu, empat tersangka memiliki peran yang berbeda. Salah satu tersangka MA misalnya, berperan sebagai komisaris PT Wepro Citra Sentosa. Ia juga yang memiliki inisiatif dan merencanakan pembangunan perumahan fiktif.

"LaluTersangka SW berperan sebagai direktur utama PT Wepro Citra Sentosa. Ia berperan menjalankan perusahaan dan bekerja sama dengan pihak lain untuk penjualan perumahan fiktif," jelas Gatot.

Barbagi peran, lanjut Gatot juga dilakukan tersangka CB. Ia mengaku sebagai pegawai pemasaran. Ia juga berperan untuk membuat iklan serta brosur untuk meyakinkan para konsumen.

"Tersangka S berperan sebagai pemegang rekening yang menampung uang para korban. Ia merupakan istri dari tersangka MA," beber Kapolda.

Selain empat tersangka, polisi masih memburu dua tersangka lainnya. Keduanya disebut berperan untuk memasarkan dan meyakinkan ke konsumen. Para tersangka menjanjikan perumahan itu bakal dibangun di wilayah Tangerang Selatan dan Banten dan dijanjikan pembangunan bakal rampung pada Desember 2018.

"Mereka dijanjikan bulan Desember 2018, pembeli perumahan sudah diberikan kunci. Faktanya tidak diberikan hingga Maret 2019," ucap Gatot.

Kepada penyidik, para tersangka mengaku uang para korban digunakan membebaskan lahan serta menggaji karyawan. Namun, pernyataan itu masih didalami penyidik. Sebab, perumahan itu masih belum dibangun.

Dari tangan para tersangka, polisi menyita barang bukti berupa brosur penjualan, bukti pembayaran para korban, dan desain utama atau master plan pembangunan perumahan.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 137 Jo Pasal 154, Pasal 138 Jo Pasal 45 Jo Pasal 55, Pasal 139 Jo Pasal 156, Pasal 145 Jo Pasal 162 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 01 tahun 2011 tentang Perumahan dan atau Pasal 3,4 dan 5 UU RI Nomor 08 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Para tersangka terancam hukuman pidana di atas 20 tahun penjara. (red)