SMAN 6 diperiksa Inspektorat, Sekdisdik Banten Akui Ada Kelemahan Pengendalian

SMAN 6 diperiksa Inspektorat, Sekdisdik Banten Akui Ada Kelemahan Pengendalian (Istimewa)

BANTEN - Setelah sebelumnya mengadu kepada Gubernur Banten, Leonita Sugiarti (40), ibunda Muhammad Fadillah Husein, mengadukan perihal 'pemecatan' yang dilakukan SMAN 6 Kota Tangsel, kepada Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy.

Meski sudah mendapatkan 'lampu hijau' dari Gubernur,  nampaknya Pemerintah Provinsi (Pemprov)  Banten,  tetap melanjutkan proses pemanggilan dan pemeriksaan,  perihal nasib Muhammad Fadillah. 

Alhasil,  Inspektorat Pemprov Banten, Selasa (31/7/2018) kemarin, langsung melakukan pemanggilan terhadap pihak sekolah.

Diketahui,  selama sepekan pasca pemulangan Fadil, pihak sekolah tidak juga memberikan konfirmasi lanjutan seperti yang dijanjikan sebelumnya. Upaya Leonita untuk memastikan nasib anaknya di sekolah tersebut terus mentah, tidak ada sedikitpun informasi yang didapat kendati sudah beberapa kali coba mendatangi sekolah.

Dilansir berbagai sumber,  proses pemeriksaan terhadap SMAN 6 tersebut,  berlangsung sejak pagi hingga sore. Baik calon orang tua murid maupun Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Kota Tangsel dimintai keterangannya perihal kronologis kejadian yang sudah berlangsung.

“Bisa saja diambil langkah kebijakan. Meskipun bagi saya pemeriksaan ini belum tuntas, belum selesai. Saya sebagai pemeriksa tidak bisa memberikan solusi. Pemeriksa hanya mengungkapkan fakta dan data sebenarnya seperti apa,” terang Andri, Anggota Pemeriksa Inspektorat Pemprov Banten, Selasa (31/7/2018).

“Hasilnya saya tidak dapat menyampaikan kepada umum. Ini kan sifatnya pemeriksaan. Hasilnya, kami secara via telepon sudah sampaikan ke pimpinan. Kalau mau bertanya ke pak inspektur, nanti kalau beliau sudah ada,” tambahnya.

Ditempat yang sama, menimbang hasil rapat, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Banten Joko Waluyo menyimpulkan, dalam perkara ini, pihaknya tak menampik terkait adanya kelemahan kontrol dari pihak sekolah.

“Artinya ada kelemahan pengendalian iya. Ceroboh juga sekolah, si siswa itu dinyatakan tidak diterima, tapi kenapa kenapa bisa ikut proses MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah),” ungkap Joko. (red)