Sengkarut Bansos, Warga Miskin KPM di Kota Tangerang Dipalak Hingga Rp10 Juta

Sengkarut Bansos, Warga Miskin KPM di Kota Tangerang Dipalak Hingga Rp10 Juta (Ilustrasi/Net)

NONSTOPNEWS.ID – Sengkarut bantuan sosial (bansos) seakan tak pernah kapok dan tak ada ujungnya. Kali ini ‘penilepan’ uang terjadi di kota Tangerang, milik Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Pelaku berinisial LLS, warga RT 1, RW 3, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Pendamping program keluarga harapan (PKH) Kelurahan Poris Plawad Indah, Herawati mengakui, pelaku tersebut adalah WS, yang merupakan Ketua Kelompok KPM RW 3 serta warga Poris Plawad Indah.

Ia menceritakan, bahwa beberapa waktu lalu dirinya ditelfon oleh Kepala Seksi Kemasyarakatan (Kasi Kemas) Kelurahan Poris Plawad Indah. Ia ditanyakan soal KPM PKH ada yang dapat bantuan tapi tidak sampai.

“Saya bilang ke Kasi Kemas agar KPM berhubungan sama saya. Saya telfon, beliau (LLS,red), ternyata dari bank kartu ke blokir gara gara transaksi gagal. Setelah itu cetak rekening koran,” terang Herawati saat ditemui, Selasa (30/6/2020).

Herawati menjelaskan, bahwa setelah menyetak rekening koran KPM pun kaget lantaran ada transaksi. Namun, LLS tidak pernah mendapatkan haknya.

“Saya sudah curiga kepada WS. Terus WS saya panggil dengan beberapa kader PKH, siapa yang tahu soal ini. Namun, WA belum mengakui. Ia mengaku kalau saldo 0. Saat lihat di aplikasi, LLS ternyata perluasan di 2019 untuk PKH, bukan 2016,” tuturnya.

Kata Herawati, saat di kelurahan, dirinya menarik WS ke pos satpam untuk menanyakan kembali. Ada salah satu kader meminta untuk membuka CCTV di Bank.

Namun, WS mulai berceloteh bahwa, dirinya sebagai ketua kelompok dan bakal diganti uang KPM tersebut.

“Akhirnya saya ngomong, jadi ibu ngambil? Dia (WS,red) minta maaf. Mengaku awal ngambil Rp550 ribu ngga sampai Rp10 jt. Katanya khilaf pas lebaran butuh uang. Pas tau dia ngambil. Saya selesaikan dan saya minta ganti uang KPM itu,” katanya.

Dikemudian hari, jelas Herawati, dirinya mengumpulkan semua ketua kelompok, lalu WS mengakui mengambil semua uang LLS hingga Rp10 juta. WS pun mengaku baru kekumpul uang Rp1 juta.

“Lalu kami ketemu di rumah ketua kelompok lain bikin surat perdamaian dengan LLS (KPM,red) untuk bikin surat perdamaian. WS pun bikin surat pengakuan. Lalu KPM minta uangnya dikembalikan seutuhnya yang diambil WS Rp10 juta,” ucapnya.

“Terus saya mediasi soal pengembalian uang tersebut. Awalnya WS minta pergantian selama enam bulan dicicil setiap bulanya. Namun bu LLS tidak mau, setelah berbincang lama bu LLS mau dicicil selama empat bulan,” katanya.

Herawati menambahkan, saat ini WS saya sudah nonaktifkan dan sudah tidak menjadi apa apa. Dirinya juga langsung menegaskan kepada ketua kelompok lainya untuk rekening koran KPM lainnya.

“Jadi bu WS menurut data di rekening koran, mulai mengambil uangnya itu 19 Maret 2020 kemarin dengan nominal yang berbeda. Lalu sebelum lebaran ngambilnya Rp1 juta hingga akhirnya terambil semua ditotoal Rp10 juta,” pungkasnya. (RK/PM)