Sempat Dipanggil Kejari Tigaraksa, Perawatan Bus Trans Anggrek Masih Misteri

Sempat Dipanggil Kejari Tigaraksa, Perawatan Bus Trans Anggrek Masih Misteri ()

TANGSEL - Membengkaknya anggaran perawatan Bus Trans Anggrek di Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) di Dinas Perhubungan (Dishub) Tangsel tahun 2015, amenjadi perhatian beberapa kalangan.

Seperti yang diungkap salah seorang pengamat kebijakan publik Fauzi bahwa, pengadaan bus tersebut merupakan sesuatu yang dianggap memboroskan keuangan Negara.

Bagaimana tidak, sambung Fauzi, biaya perawatan yang menghabiskan hampir Rp 1 miliar tersebut, tidak sesuai dengan segmentasi masyarakat Tangsel.

"Coba aja dicek. Dilihat, segmentasi penumpangnya siapa. Kan ngga jelas. Belum lagi anggaran perawatannya, kelilingnya aja ngga keliatan kemana aja, biaya perawatannya sampai Rp 1 miliar," kata Fauzi saat dihubungi lewat telepon genggamnya, Selasa (28/8/2018).

Fauzi menambahkan, pembelanjaan anggaran perawatan terhadap bus tersebut, diketahui sudah pernah diperiksa oleh Kejaksaan Negeri Tangerang, yang saat itu berada di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

"Setau saya sudah pernah diperiksa sama Kejaksaan Negeri Tigaraksa. Tapi aman sampai sekarang. Ada apa? Coba diungkap ke masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan masih belum dapat dikonfirmasi terkait pemanggilan dari Kejari Tigaraksa tersebut.

Wakil Ketua Komisi IV Tarmizi pun belum memberikan keterangan terkait dugaan penyimpangan anggaran perawatan Bus Trans Anggrek.

Sementara itu, salah seorang warga yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Tantan Hermansyah menyatakan, terkait dugaan penyimpangan anggaran perawatan bus tersebut, harus dilihat seberapa besar penggunaan dan fungsi dari moda transportasi tersebut.

"Sebenarnya bukan masalah angkanya. Aspek kewajaran dan ketidakwajaran terletak pada apakah kebutuhannya benar, bisa diaudit, dan transparan. Sangat penting dan harus (diaudit dan transparan). Misi dari kehadiran bus ini kan untuk melakukan transformasi perubahan perilaku pengguna, jadi misinya besar sekali. Pertaruhannya adalah melakukan perubahan sosial," tutur Tantan.

"Jadi nilai berapapun, asal bisa dipertanggungjawabkan outputnya. Tentu saja harus dievaluasi secara mendasar mulai dari ide dasar, alokasi dan sistem penganggarannya, dan tentu saja, yg tidak boleh dilupakan adalah Feasibility Study naskah akdemiknya," pungkasnya. (ak)