Proyek Puskesmas Cirendeu Rp 10,8 M Terancam Gagal, Bappeda Tangsel Ga Paham Perencanaan?

Proyek Puskesmas Cirendeu Rp 10,8 M Terancam Gagal, Bappeda Tangsel Ga Paham Perencanaan?
Proyek Puskesmas Cirendeu Rp 10,8 M Terancam Gagal, Bappeda Tangsel Ga Paham Perencanaan?
(Lokasi bakal proyek puskesmas Cirendeu yang disengketakan/Nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Pihak pemenang tender proyek Puskesmas Cirendeu senilai Rp10,8 miliar diperkirakan bakal molor pengerjaannya. Proyek yang rencananya digarap PT. Total Cakra Alam itu hingga kini belum jelas. Hal itu dikarenakan lahannya masih sengketa.

Nonstopnews.id berusaha menghubungi pihak kontraktor, namun pemenang proyek itu bungkam terkait soal adanya kerugian masa pekerjaan yang akan dialami. Karena data yang diperoleh, kontrak kerja tersebut di tanda tangani sejak tanggal 2 Juli lalu.

Dimintai tanggapan soal itu, pengamat politik dan kebijakan publik dari universitas islam Syekh Yusuf (UNIS), Adib Miftahul menerangkan bahwa, proses pembangunan puskesmas tersebut jika terkatung-katung membuktikan perencanaan yang gagal.

"Yang pasti sebuah proyek pembangunan yang dilelang begitu harus jelas dulu. Kalo belum jelas, ya ini artinya perencanaan yang tidak matang," kata Adib saat dihubungi via telepon genggamnya, Kamis (11/7/2019).

Adib juga menambahkan wajar jika kontraktor melakukan pola 'wait and see' alias menunggu hingga jelas.

"Sampai sekarang pihak kontraktor terkesan berdiam diri? Ya wajar saja, karena mereka (kontraktor) melakukan tugasnya atas dasar perintah kerja," tambahnya.

Adib juga menyebut, sudah menjadi rahasia umum terkait adanya 'setoran awal' dari pemenang proyek, namun kontraktor diyakini dapat berspekulasi soal keuntungan terkait pekerjaan tersebut.

"Pasti dia bisa menghitung dan mereka tidak akan rugi kalau harus menahan berapa bulan untuk tidak membangun. Terkait dugaan atas kemenangan proyek dengan 'embel-embel' sudah menjadi rahasia umum (jika) mereka harus memberikan 'sesuatu', tapi itu sudah menjadi perhitungan mereka," tuturnya lagi.

Lebih lanjut Adib mengungkap, jika penandatanganan kontrak kerja sudah dilakukan, dan hingga kini belum juga dikerjakan, kemungkinan Sisa Hasil Penggunaan Anggaran (Silpa) akan terjadi.

"Kalau misalnya tandatangan sudah dilakukan, semestinya pekerjaan proyek tersebut sudah mulai dilakukan. Jangan sampai nanti menjadi Silpa. Dan, apakah masih bisa dianggarkan untuk tahun depan, bukankah akan menjadi pertanyaan banyak pihak jika dianggarkan kembali. Oleh sebab itu, kembali lagi perlu perencanaan yang matang dari Bappeda," tutupnya.

Saat hendak dikonfirmasi, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangsel, Muhamad Taher masih belum dapat memberikan keterangan. Hal serupa terjadi saat wartawan mencoba menghubungi Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie.

Keterangan keduanya akan ditayangkan, jika sudah mendapatkan informasi. (Ak)