Proyek Geothermal di Wilayah Bupati Tatu Dinilai Terlalu Dipaksakan

Proyek Geothermal di Wilayah Bupati Tatu Dinilai Terlalu Dipaksakan (ist)

NONSTOPNEWS.ID - Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Nasional menilai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Geothermal di Padarincang, Kabupaten Serang, terlalu dipaksakan karena energi listrik saat ini di Banten dianggap cukup.

“Untuk kebutuhan listrik nasional, di pulau jawa sudah surplus energi listrik. Dulu ada indutsri tambang di Sumsel yang katanya untuk Jawa Bali, ternyata tidak dibangun karena sudah surplus,” ucap Koordinator Divisi Simpul Perlawanan Masa Jatam Seny Sebastian usai acara diskusi di Kota Serang, Kamis (13/2/ 2020).

Kalau proyek tersebut untuk mengejar 35 ribu megawatt, sambungnya, itu terlalu memaksakan.

“Sudah surplus tetapi memaksakan ada proyek ini, itu jelas dipaksakan untuk investasi. Kita tidak tahu itu untuk melayani industri atau masyarakat,” ucapnya.

Proyek tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan dampak buruk, terutama jika proyek ini gagal, tambahnya.

“Kita mestinya belajar dari geothermal di Nusa Tenggara Timur. Semburan panas dari ekstraksi yang dikeluarkan merugikan masyarakat. Mestinya itu menjadi catatan bahwa investasi apa pun kalau mengancam dan membahayakan maka harus ditolak,” ujarnya.

Selain itu, ia juga khawatir karena Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Rawa Danau Padarincang sebenarnya masuk kawasan rawan bencana, seperti longsor dan gempa.

“Saat ini masyarakat Padarincang sudah beberapa kali melakukan penolakan, namun hingga saat ini perusahaan tersebut masih diberikan ruang untuk melakukan aktivitas,” tutupnya. (eag/sbn)