Polisi Sebut Isi WhatsApp Group Pentolan KAMI Ngeri, Obrolan Disadap?

Polisi Sebut Isi WhatsApp Group Pentolan KAMI Ngeri, Obrolan Disadap? (Ilustrasi/Net)

NONSTOPNEWS.ID - Dicokoknya 8 aktivis yang tergabung Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) ternyata dari WhatsApp Group (WAG). Apakah WAG bocor atau bisa disadap?  

Dalam kasus sidang korupsi, KPK memang sering membongkar percakapan via WhatsApp (WA). Bahkan, percakapan itu sering diungkap di persidangan. 

Tapi, soal WAG bisa disadap atau tidak memang belum terbukti. Tapi, bisa saja ada software untuk menyadap komunikasi pribadi di WA, sekalipun layanan ini sudah menerapkan enkripsi end-to-end.

Lalu, bagaimana mengetahui kalau WA telah disadap atau diakses pihak lain, inilah pendapat dari berbagai sumber ahli IT dan blog Avira : 

1. Pengguna Tidak Bisa Login : Satu nomor telepon pada dasarnya hanya bisa dipakai di satu aplikasi WhatsApp atau biasa disebut dengan istilah single-device login. Nah, jika mendadak kamu keluar atau log out dari aplikasi WhatsApp tanpa sadar, kemungkinan ada pihak lain yang sedang memakai nomor telepon kamu untuk login di aplikasi WhatsApp.

2. Tak Bisa Menelepon Via WA : Blog Avira menyebut, jika pengguna tidak bisa menelepon via WhatsApp bisa jadi tanda jika WhatsApp mereka sudah disadap pihak lain.

3. Cek WhatsApp Web : WA web merupakan sebuah fitur yang memungkinkan pengguna untuk mengakses via browser di perangkat laptop atau komputer. Fitur ini sangat krusial untuk pengguna yang memakai PC, tetapi di sisi lain ini memungkinkan peretas atau pihak lain untuk menyadap akun. Untuk mengetahui apakah akun WhatsApp kamu disadap, kamu bisa membuka Setting atau menu Titik Tiga di kanan atas WhatsApp, kemudian pilih WhatsApp Web. Jika ternyata kamu login di perangkat yang tidak kamu kenali dengan lokasi yang tak dikenal pula, pilih logout atau keluar dari semua perangkat.

4. Pesan Terbaca Padahal WhatsApp tidak Dibuka 

5. Kirim Pesan Tanpa Sepengetahuan Pengguna

6. Baterai Cepat Habis

WAG KAMI
Isi percakapan dalam grup orang-orang KAMI terkait demo UU Cipta Kerja kata Polri mengerikan. Hal ini diungkapkan Polri.

"Diduga mereka-mereka itu tadi memberikan informasi yang menyesatkan, berbau SARA dan penghasutan-penghasutan itu. Kalau rekan-rekan ingin membaca WA-nya ngeri," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Awi menuturkan isi percakapan menyulut rasa kebencian. Awi juga menyinggung soal rencana perusakan.

"Pantas di lapangan terjadi anarki sehingga masyarakat yang, mohon maaf, tidak paham betul akan tersulut. Ketika direncanakan sedemikian rupa, untuk membawa ini-itu untuk melakukan perusakan semua terpapar jelas di WA," tuturnya.

Untuk diketahui, Bareskrim Polri menangkap petinggi dan anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Total ada 8 anggota KAMI Medan dan Jakarta yang ditangkap.

"Medan KAMI: Juliana, Devi, Khairi Amri, Wahyu Rasari Putri. Jakarta: Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur, Kingkin," kata Awi saat dimintai konfirmasi.

Kedelapan orang ditangkap dalam kurun 9 Oktober hingga hari ini. Mereka ditangkap dari lima kota, yakni Medan, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Depok, dan Tangerang Selatan.

Salah satu pelaku yang ditangkap yaitu Ketua KAMI Medan, Khairi Amri mengakui adanya ajakan demonstrasi rusuh di WAG 'KAMI Medan'. Salah satu member grup menyerukan ajakan demo seperti 1998.

"Bukan (ujaran kebencian) SARA, tapi ada apa ya, ke penguasa pula. Mengajak (demonstrasi) sampai chaos. Saya kaget itu, 'Ayo kita buat seperti '98'. Tidak ada kayaknya SARA, nggak ada. Cuma ketidaksenangan ke kebijakan pemerintah, apalagi kita sama-sama nggak tahu nih omnibus law, tapi kita anggap kita menolak gitu," ucapnya. (RadarNonstop)