Polemik Visi Misi, Pengamat : Hentikan Dagelan Politik, 'Indonesia Menang' Hanya Soal Ksatria

Polemik Visi Misi, Pengamat : Hentikan Dagelan Politik, 'Indonesia Menang' Hanya Soal Ksatria
Polemik Visi Misi, Pengamat : Hentikan Dagelan Politik, 'Indonesia Menang' Hanya Soal Ksatria
(Istimewa)

NONSTOPNEWS.ID - Perubahan visi-misi oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang semula 14 halaman menjadi 44 halaman hingga kini masih menjadi polemik. 

Terbaru, visi-misi terbaru dengan tagline "Indonesia Menang" ini di klaim juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN)pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily sebagai hasil jiplak dari poin-poin yang telah dilakukan oleh Jokowi selama 4 tahun ini.

Tercatat, melalui komisioner KPU Wahyu Setiawan, pihaknya menolak perubahan berkas visi-misi yang diajukan, karena sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari pendaftaran capres-cawapres 2019 dan masa itu. Namun pihaknya tidak melarang jika BPN Prabowo-Sandi menjadikan visi-misi baru itu sebagai program ke masyarakat.

Melihat hal ini pengamat komunikasi, sosial dan politik Tamil Selvan mengatakan perubahan tagline Prabowo Sandi dari Indonesia Adil Makmur menjadi Indonesia Menang merupakan sikap kenegarawanan Prabowo yang selama ini dinilai banyak tokoh melekat padanya.

Secara semiotika pria yang akrab di sapa Kang Tamil ini mengatakan Indonesia Menang merupakan sikap Prabowo yang menginginkan kepentingan Indonesia diatas kepentingan lainnya, termasuk kepentingan politik maupun kepentingan pribadi.

"Ini menunjukkan siapapun pemenang kontestasi pilpres ini haruslah dapat membawa Indonesia ini menjadi pemenang. Secara makna simbolis, menang disini bukan semata dimaknai kemenangan Jokowi atau kemenangan Prabowo," kata pria yang akrab disapa Kang Tamil, saat dihubungi Nonstopnews.id, Sabtu (12/1/2019).

Namun kata Kang Tamil, ini lebih sebagai upaya kepada kemenangan segenap rakyat Indonesia terhadap kebijakan-kebijakan yang selama ini dianggap kurang berpihak pada mereka.

"Dalam tagline ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak "ngotot" harus menang. Namun lebih kepada, harapan agar putera terbaik bangsa yang dapat membawa kemenangan bersama dapat terpilih. Dan tentu saja bagi yang kalah harus legowo," paparnya. 

Sikap ksatria melalui tagline Indonesia Menang ini dinilai Kang Tamil sangat bijak di saat terus terjadi perang opini antara TKN Jokowi-Ma'ruf dan BPN Prabowo-Sandi.

"Walaupun dalam kontestasi pemilu hal ini merupakan hal yang lumrah, namun kita ingin menyudahi stigma yang seolah-oleh membuat bangsa ini menjadi terbelah dua yang tak berujung," ungkap alumnus komunikasi politik universitas Mercu Buana ini.

Selanjutnya Kang Tamil menyarankan agar pemilu ini menjadi contoh sebagai pemilu yang bermartabat dengan adu gagasan, pihak Prabowo-Sandi dengan konsep ekonominya dan pihak Jokowi-Ma'ruf dengan konsep pembangunan Indonesia.

"Ini layaknya seorang pelamar kerja yang sedang mempresentasikan gagasannya dihadapan calon "Bos" yaitu rakyat Indonesia, untuk dapat dipercaya dan diberikan posisi pekerjaan "Jabatan Presiden dan Wakil Presiden"," jelasnya. 

Maka lanjutnya, tentu tidak elok antar sesama pelamar kerja bertikai dihadapan calon bos saat mempresentasikan gagasannya.

"Dan hati-hati, "bos" yang lelah dan muak dengan dagelan pertikaian ini akan memutuskan untuk tidak memilih, itu berarti angka golput semakin tinggi. Dan tingginya angka golput merupakan kesalahan kedua paslon," tutupnya. (hm)