Pertemuan Jokowi-Prabowo Untuk Ungkap Ada Penumpang Gelap, Siapa Tuh?

Pertemuan Jokowi-Prabowo Untuk Ungkap Ada Penumpang Gelap, Siapa Tuh? (Istimewa)

NONSTOPNEWS.ID - Pertemuan Prabowo - Jokowi di MRT menyisakan luka mendalam bagi pendukung Capres 02 itu.

Masyarakat yang tadinya begitu loyal, bahkan cenderung fanatik dalam memberikan dukungan, berbondong - bondong meninggalkan mantan Danjen Kopassus itu dan Partai Gerindra.

Tampaknya hal ini disadari betul oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco yang disebut - sebut sebagai sutradara dibalik pertemuan tersebut bersama Budi Gunawan (Kepala BIN).

Karenanya, Dasco pun mulai rajin ngoceh di media, mengkampanyekan pembenaran pertemuan tersebut untuk meraih kembali simpati rakyat kepada Prabowo yang telah pudar. Kali ini yang dimainkan adalah isu soal ‘penumpang gelap’.

Menurut Dasco, pertemuan Prabowo - Jokowi yang dia gagas bersama Budi Gunawan (Kepala BIN) telah sukses membuat penumpang gelap di kubu Capres 02 itu gigit jari. 

Sayangnya, Dasco tidak menyebutkan atau merinci siapa penumpang gelap yang dimaksud. Sehingga subjektivitas pembicaraannya menjadi sangat tinggi.

Entah benaran atau hanya sekedar opini yang dibangun untuk meraih simpati pendukung Prabowo yang kadung kecewa dengan pertemuan tersebut.

“Dalam situasi terakhir dia ngomong sama kita, 'ini kalau kita mau diadu-adu terus, kita mau diadu domba, kita mau terus dikorbanin juga'. Dia (Prabowo) bilang saya akan ambil satu tindakan yang akan bikin orang-orang itu enggak terduga," ujar Dasco di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8/2019) lalu.

Dasco menyebut Prabowo menyadari betul kehadiran pihak ketiga yang ternyata ikut bertarung dalam Pilpres 2019 lalu. Tak mau kecolongan lebih jauh, kata Dasco, Prabowo kemudian mengambil langkah guna membuat penumpang gelap menyingkir.

"Ya ada tadi dibilang penumpang-penumpang gelap misalnya itu bukan kemudian kita singkirkan, (ada strategi)  ini karena Prabowo jenderal perang bos. Ya dia langsung banting stir orang-orang gigit jari lah," katanya.

Menurutnya langkah yang diambil jenderal bintang dua itu ternyata berhasil. Pada tahap pertama, Prabowo yang awalnya tidak mau membawa masalah Pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK), akhirnya mau mengajukan gugatan meski akhirnya ditolak.

"Pertama MK, itu tidak disangka tidak diduga bahwa Prabowo akan mengumumkan kepada para pendukungnya untuk tidak melakukan demo, tidak datang ke MK," kata Dasco.

"Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, itu di luar dugaan banyak orang. Nah itu yang namanya penumpang gelap yang gigit jari di situ itu baru MK waktu sidang mahkamah konstitusi," lanjut Dasco.

Tindakan membawa sengketa Pilpres ke MK tersebut ternyata mendapat masukan dari pihak tertentu yang menyarankaan strategi lain kepada Prabowo.

Meski demikian, Dasco menyebut ada juga pihak di kubu Prabowo yang saat itu memberikan saran agar situsi pasca Pilpres 2019 semakin memanas.  Salah satunya ada usulan agar memanfaatkan emak-emak dan ulama untuk turun di barisan depan.

"Lalu kemudian sesudah MK masih ada tuh, ada yang (beri usul) ngomong sama Pak Prabowo saya terus terang saja, (mereka bilang) 'Pak kalau mau rakyat marah, ulama disuruh ke depan, emak-emak disuruh ke depan biar jadi korban banyak (terus) rakyat marah'," ujar Dasco menirukan pihak yang maksud saat usul ke Prabowo.

Namun saat itu saran tersebut langsung ditolak oleh Prabowo lantaran tidak ingin jatuh korban dari kalangan ulama dan emak-emak.

Usul tersebut kemudian dibalas oleh Prabowo dengan rencana pertemuan dengan Jokowi selaku presiden terpilih periode 2019 - 2024 yang sudah diatur secara diam-diam.

"Prabowo pikir emang gua bodoh dia bilang begitu, 'kan kasihan ulama sama emak-emak mau dikorbanin'. Nah untuk lihat seperti ini untuk kemudian keutuhan NKRI bukan kemudian kita minta menteri, dirancanglah pertemuan rekonsiliasi itu secara diam-diam secara senyap saja. Tiba-tiba untuk kesatuan bangsa ketemu lah dua tokoh ini di stasiun MRT," tandasnya. (Rn/red)