Perda Tata Ruang Tangsel Molor, Pasar Tradisional Sepi

Perda Tata Ruang Tangsel Molor, Pasar Tradisional Sepi
Perda Tata Ruang Tangsel Molor, Pasar Tradisional Sepi
(Nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Penataan ekonomi di Kota Tangerang Selatan masih menjadi persoalan bagi para pelaku usaha, terlebih yang menggantungkan hidupnya pada pasar-pasar tradisional.

Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang perubahan Perda nomor 15 tahun 2011 yang mengatur Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) masih juga belum selesai diundangkan. Padahal, dengan Perda itu, nantinya kepentingan pedagang kecil bisa dilindungi dari serbuan toko retail modern.

Molornya Raperda yang salah satu isi didalamnya mengatur tentang pembinaan dan pengelolaan toko modern tersebut, membuat raksasa toko modern seperti Alfamart, Indomaret, Alfamidi bahkan Giant dan Carrefour membangun 'lapaknya' di sembarang tempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Raperda RTRW, sudah diusulkan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangsel sejak 2016 lalu. Namun hingga kini masih belum bisa di undangkan menjadi Perda.

Dijelaskan Pengamat kebijakan publik dari Public Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah bahwa, lambatnya pembentukan regulasi yang jelas, bisa jadi adanya tekanan-tekanan dari pengusaha dan konglomerat.

"Bukan saja di Tangsel di seluruh daerah, Perda RTRW ini mengalami resistensi. Karena kelompok-kelompok konglomerasi si pengusaha besar memaksakan kepentingannya yang menyebabkan pihak Legislatif maupun Eksekutif terpaksa harus menahan diri," kata Amir lewat pesan whatsappnya, Rabu (6/3/2019).

Amir juga mengatakan, lambatnya regulasi perundang-undangan RTRW, membuat pemerintah harus melakukan diskresi terhadap penempatan usaha kecil dan menengah.

"Kalau untuk kepentingan pedagang kecil, Pemkot bisa mensiasati dengan kewenangan diskresi yang dimiliki, untuk tetap dapat memberikan pelayanan publik dalam hal ini perlindungan bagi pelaku usaha kecil," katanya.

Lalu, molornya Perda RTRW, akibatnya pasar tradisional menjadi kurang diperhatikan. Pemandangan seperti kumuh, becek, dan para pedagang yang tak tertata dengan baik alias semrawut menjadi masalah yang hingga kini belum terselesaikan.

Salah seorang pedagang di Pasar Ciputat lantai II Blok E, Teteh (46) mengaku, semenjak sepuluh tahun terakhir dagangannya sepi pengunjung. Pedagang pakaian itu mengeluh sepinya pengunjung lantaran akibat keberadaan toko modern didekat lokasi Pasar Ciputat.

"Dulu tidak sepi semenjak belum ada Ramayana dan Plaza Ciputat. Sekarang sepi. Boro-boro bicara keuntungan, pengunjung saja kadang ada dan kadang tidak ada. Pemasukan itu jika ada pembeli bisa sampai Rp. 100 ribu - Rp 300 ribu, kalau tidak ada seperti ini ya nol pemasukan lah. Kalau 10 tahun lalu pemasukan bisa sampai Rp 1 juta,"katanya, Kamis (07/03/2019).

Meski demikian, pedagang pakaian itu berharap penataan para pedagang di Pasar Ciputat untuk segera ditertibkan kembali. Pasalnya, banyak pedagang pakaian saat ini keberadaannya ada di lantai satu yang dinilai menjadi kendala bagi pembeli untuk naik ke lantai dua.

"Pasar dilantai dua ini sepi. Apalagi pedagang pakaian yang semula dilantai dua kini ada yang di lantai satu untuk mengejar pembeli. Kalau bisa penataan pedagangnya diperketat, kasihan yang ada di lantai atasnya tidak dapat pembeli,"harapnya.

Menanggapi keluhan pedagang pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel, melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) pasar, Ferdiansyah mengatakan, Pasar Ciputat saat ini baru menjalani Market Sounding (penjajakan minat pasar) yang dijadwalkan akan selesai pada tahun 2020.

"Kalau masalah revitalisasi baru Ciputat yang sedang berjalan market sounding. Jadi sesuai jadwalnya akan selesai pada tahun 2020, sebelum masa akhir jabatan. Pasar lainya kami sedang menunggu pihak ketiga yang mau membantu membangun,"kata Ferdiansyah. (ak)