Pengrajin Tempe Pasrah, Aksi Mogok Kerja Tak Dihiraukan Pemerintah

Pengrajin Tempe Pasrah, Aksi Mogok Kerja Tak Dihiraukan Pemerintah (Istimewa)

NONSTOPNEWS.ID - Jauhnya perbedaan antara harga Tempe dengan bahan baku dikeluhkan para pengrajin tempe di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, sejak Oktober 2020 lalu.  Tingginya harga kacang kedelai membuat para pengrajin tempe di wilayah tersebut mogok kerja. 

Dengan naiknya harga bahan baku tempe yang kini meroket, membuat omzet para pengusaha tempe turun. Salah satu pengusaha tempe, Cipto (30) memaparkan, harga kacang kedelai saat ini telah mencapai Rp9.200 per kilogram. Padahal sebelumnya hanya sekitar Rp7.000 sampai Rp8.500 per kilogram. 

"Kalau normal itu standar kita untuk kacang 50 kilogram dapat Rp700 ribu. Selama naik harga kacangnya keuntungannya turun sekitar 30 %," ungkap Cipto saat ditemui di tempat produksinya yang terletak di Jalan Wahid, Ciputat, Tangsel, Sabtu (2/1/2021). 

Kondisi demikian membuat para pengusaha tempe se-Indonesia dan termasuk dirinya memutuskan untuk mogok produksi sejak Rabu (30/12/2020) dan tak berjualan hingga Minggu (3/1/2021) besok.

"Karena harga kacang kedelai lebih mahal dari standar. Kita mogok kerja, sejak Rabu (30/12/2020) sudah tidak produksi," ujar Cipto.  

Dia menuturkan, aksi mogok tersebut dilakukan sebagai aksi protes  kepada pemerintah. 

"Jadi kita mogok agar harga kacang yang mahal itu bisa turun. Karena kalau harga kacang naik, otomatis harga tempe juga naik," tuturnya.  

Namun nampaknya, aksi protes yang sudah dilakukan berhari-hari ini tidak membuahkan hasil. Harga kacang kedelai masih saja tinggi.  Kondisi tersebut pun hanya membuat Cipto dan pengusaha tempe lainnya berpasrah.  Mereka bersepakat untuk mulai melakukan produksinya kembali dijual, Senin (4/1/2021) mendatang. 

"Ya mau bagaimana lagi, mogok juga kita enggak ada penghasilan, harga kacang enggak turun juga. Dari pada tidak ada kerjaan," pungkasnya. (red)