Pengakuan Warga yang Tinggal Digubuk Reyot, Kepemilikan Tanah Jadi Kendala

Pengakuan Warga yang Tinggal Digubuk Reyot, Kepemilikan Tanah Jadi Kendala (Nuraini, warga Rt 003/Rw 003 Kampung Jeletreng, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan/RN)

NONSTOPNEWS.ID - Pengakuan dan fakta sebenarnya dari, Nuraini, salah seorang warga Rt 003/Rw 003 Kampung Jeletreng, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang dikabarkan tinggal di rumah tidak layak huni, atau di gubuk reyot.

Diakuinya, bahwa gubuk tersebut merupakan milik mertuanya, dan dirinya menempati gubuk itu semasa suaminya masih hidup. Namun setelah suaminya meninggal belum lama ini, dia lebih memilih untuk tinggal di kontrakan yang berada disamping gubuk tersebut.

"Sebelumnya punya rumah dijual sama mertua, ada kebutuhan. Saya ngontrak sama suami, karna kerjanya berhenti kan ga kebayar kontrakan, jadi pindah ke sini lagi ikut mertua," ujarnya.

Dirinya berharap agar pemerintah memberikan bantuan untuk membedah gubuk reyot itu. Namun gubuk itu berdiri di tanah yang kepemilikan nya belum jelas.

Sementara, Ketua Rt 003/Rw 003 Kampung Jeletreng, Yudi Jajuli mengungkapkan, bahwa sebelumnya juga pernah ada pengajuan namun masih belum bisa karena harus ada Surat Pemberitahuan (SPT) dan bukti kepemilikan tanah.

"Dari awal juga udah ngajuin, engga bisa syaratnya seperti itu harus ada SPPT atau bukti kepemilikan tanah, tapi engga ada juga. Tanah itu emang masih tanah keluarga suami," terangnya.

Semantara, Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimta) Tangsel, Yulia Rahmawati mengungkapkan, bahwa mekanisme terkait penerima program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau bedah rumah diatur dalam Peraturan Walikota nomor 6 tahun 2018 tentang pedoman pelaksanaan perbaikan rumah umum tidak layak huni.

"Secara normatif mekanisme persyaratan program pengajuan bedah rumah tanah harus atas nama pribadi," singkatnya melalui sambungan Whatsapp.

Untuk diketahui, sejak tahun 2015 hingga tahun 2019 Pemkot Tangsel telah menjalankan program perbaikan RTLH dengan telah melakukan perbaikan sebanyak 1.255 unit rumah. Ditambah, usulan pada tahun 2020 sebanyak 305 unit rumah, yang telah dilakukan perbaikan sebanyak 205 unit, sisanya sebanyak 105 unit ditunda ke tahun 2021. (RN/Kb)