Pengadaan Lahan SMPN 24 Kota Tangsel Janggal dan Diduga Rugikan Negara Hingga Belasan Milyar, Bakal Jadi Skandal?

Pengadaan Lahan SMPN 24 Kota Tangsel Janggal dan Diduga Rugikan Negara Hingga Belasan Milyar, Bakal Jadi Skandal? (Lahan untuk pembangunan gedung SMPN 24 Kota Tangerang Selatan/KB)

NONSTOPNEWS.ID - Berdasarkan hasil penelusuran awak media, terdapat sejumlah kejanggalan perihal pengadaan lahan untuk pembangunan gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 24 Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sehingga diduga menimbulkan kerugian keuangan daerah yang mencapai belasan milyar rupiah.

Kejanggalan tersebut antara lain, menyangkut perbedaan kondisi lahan, yang menurut Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangsel, Siti Barokah, bahwa keterangan pada sertifikat tanah tersebut berbentuk daratan, dan pihaknya yang berperan melakukan pendampingan secara yuridis.

“Di sertifikat tanah darat. Nah, sedangkan kalau itu rawa, untuk penunjukan lokasi kan dari dinas pendidikan, dinas yang memerlukan jadi bukan Dinas Perumahan Pemukiman dan Pertanahan (Disperkimta) yang harus nunjukin ini segala macem seperti itu,“ ujarnya, di kantor Kejari Tangsel, Jalan Raya Promoter BSD City, Serpong, Senin (7/9/2020).

Berdasarkan pantauan ke lokasi lahan, dengan didampingi oleh salah seorang kerabat dari ahli waris, Abdul Abbas. Bahwa fakta dilapangan, lahan tersebut tampak seperti lahan resapan air, kondisi lahan berbentuk kolam-kolam ikan dan rawa-rawa.

"Lahan ini, udah dari dulunya emang bentukannya sawah, terus dibikin empang seperti rawa-rawa dan jadi sumber resapan air. Udah ada sekira 100 tahunan sampai sekarang ya masih begitu, rawa-rawa," kata Abbas saat menunjukkan lokasi lahan SMP 24 Kota Tangsel, Selasa (8/9/2020).

Kejanggalan selanjutnya ialah pada proses pembayaran ganti rugi lahan, dimana Pemerintah Kota Tangsel melalui Disperkimta membayar ganti rugi lahan tersebut berdasarkan sertifikat atas nama Jawiyah.

Padahal, hasil kajian lahan SMPN 24 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel turut disertakan lampiran dokumen-dokumen alas tanah, yang mana pada lahan yang sama, sertifikat tanah bukan atas nama Jawiyah.

“Iya bukan Jawiyah, waktu itu kita datang pertama kali atas nama H. Hariadi dan H. Hari itu kan ada 9 anak,” ujar salah seorang sumber di Dindikbud Tangsel, Selasa (8/9/2020).

Senada, Abbas juga menegaskan bahwa lahan tersebut sebelumnya memang atas nama keluarga istrinya, termasuk didalamnya H. Hariadi dengan keterangan bentuk lahan berupa empang atau kolam ikan. Dia menduga ada permainan oknum, sehingga sertifikat tanah tersebut berubah nama pemilik dan keterangan bentuk lahannya.

Kemudian, berdasarkan keterangan kepala bidang pembebasan lahan pada Disperkimta Kota Tangsel, Rizkiah, total luas lahan SMPN 24 Kota Tangsel ialah 9.452 meter persegi. Dimana harga taksiran tanah per meter adalah sebesar yang menelan anggaran sebesar Rp.2.888.000, sehinga total keseluruhan pembayar ganti rugi yakni sebesar Rp.27.297.376.000.

Diketahui, pembayaran ganti rugi dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama pembayar dilakukan pada tahun anggaran 2019, dengan luas lahan yang dibayarkan 5.688 meter persegi, dan tahap dua pada tahun anggaran 2020 dengan luas lahan yang dibayarkan 3.764 meter persegi.

Disisi lain, apabila Disperkimta melakukan pembayaran ganti rugi lahan sesuai dengan hasil kajian lahan yang dilakukan sebelumnya oleh Dindikbud Kota Tangsel, maka seharusnya pengadaan lahan SMPN 24 hanya menghabiskan kurang lebih setengah dari anggaran yang telah dibayarkan. Karena menurut keterangan Abdul Abbas, harga per meter lahan sekitar Rp.1.200.000, karena lahan tersebut berbentuk kolam-kolam dan rawa-rawa.

Namun, entah bagaimana Disperkimta Kota Tangsel, melakukan pembayaran ganti rugi berdasarkan sertifikat atas nama Jawiyah dengan harga taksiran mencapai lebih dari dua kali lipat harga dari ahli waris, sehingga anggaran untuk pengadaan lahan SMPN 24 Kota Tangsel pun membengkak lebih dari dua kali lipat.

Hingga informasi ini disampaikan, Nonstopnews.id masih terus melakukan penelusuran, untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam soal tersebut. (KB)