Penderita HIV Meningkat, Pemkab Tangerang Sediakan Obat Gratis

Penderita HIV Meningkat, Pemkab Tangerang Sediakan Obat Gratis  ()

NONSTOPNEWS.ID – Kabupaten Tangerang merupakan wilayah yang memiliki kasus penderita HIV yang terbilang tinggi, berdasarkan data yang dihimpun SuaraBantenNews, tercatat sebanyak 1.100 warga Kabupaten Tangerang yang menderita HIV.

Pada 1 Desember 2020 kemarin, hari peringatan Aids Sedunia, Aids merupakan kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah kita lahir. AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV atau Human Immunodeficiency Virus. Bila kita terinfeksi HIV, tubuh kita akan mencoba menyerang infeksi. Sistem kekebalan kita akan membuat ‘antibodi’, molekul khusus yang menyerang HIV itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Kabupaten Tangerang dr. Hendra Tarmidzi mengatakan, Kabupaten Tangerang di tahun 2020 ini terdapat kurang lebih 300 orang menderita HIV. Adapun, kata dia, penderita yang masih menjalani pemulihan dan sedang rutin meminum obat HIV tercatat sebanyak 800 orang. Jadi, kata Hendra, jika dijumlahkan tercatat sekitar 1.100 warga Kabupaten Tangerang yang menderita HIV.

Hendra pun memaparkan, untuk kantong penyebaran HIV di Kabupaten Tangerang sendiri yang mendominasi yaitu Kecamatan Kelapa Dua, Panongan, Curug, Balaraja, Kosambi, dan Sukadiri. Sebab, kata dia, di kecamatan tersebut masih banyak peluang masyarakat melakukan hubungan seks seperti maraknya tempat hiburan, apartemen, dan warung remang-remang di sepanjang pantai.

“Untuk angkanya saya belum lihat, yang pasti itu rentetan kecamatan yang masih tinggi kasusnya,” kata Hendra.

untuk mengatasi permasalah tersebut, Pemkab Tangerang telah menyediakan obat HIV di 14 puskesmas se-Kabupaten Tangerang.

“Awalnya 7 sekarang sudah ada 14 puskesmas. Jadi orang yang terkena HIV sudah tidak usah lagi mengambil obat di rumah sakit karena sudah disediakan di puskesmas,” jelasnya.

Menurutnya, saat penderita HIV sudah mulai bosan berobat, mayoritas dari mereka enggan mengambil obat secara rutin yang telah disediakan oleh rumah sakit. Kata Hendra, padahal obat HIV itu sangat dibutuhkan dan wajib diminum oleh penderita HIV seumur hidup alias tidak boleh putus. Obatnya pun disediakan oleh pemerintah secara gratis dan tidak dijualbelikan secara bebas.

“Lama-lama kan mereka bosan berobat dan akhirnya putus obat. Kalau putus obat, mereka akan menderita AIDS dan itu sangat berbahaya,” ungkapnya. (sbn/red)