Oesman Sapta Sebut SMSI Bakal Besar dan Dibutuhkan Zaman

Oesman Sapta Sebut SMSI Bakal Besar dan Dibutuhkan Zaman
Oesman Sapta Sebut SMSI Bakal Besar dan Dibutuhkan Zaman
()

JAKARTA - Hal itu dikatakan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Oesman Sapta Odang (OSO), saat menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) ke III tahun 2018 di Hotel San Pacifik Jakarta, Kamis (27/7/2018) malam.

“Demi SMSI saya luangkan waktu dan membatalkan beberapa agenda lain. Kenapa? Karena SMSI ini tak bisa dianggap remeh, ini organisasi besar, baru berdiri dua tahun, Rakernas sudah tiga kali, kan hebat,” puji OSO.

Sangking istimewanya acara ini, kata OSO, dirinya sengaja membawa beberapa anggota DPD RI.

“Sengaja saya ajak Pak Wakil Ketua DPD Nono Sampono, Pak Benny Rhamdani dan abdul azis,Subadri kawan-kawan, karena acara ini spesial. Sebenarnya saya mau undang semua anggota DPD dari 34 provinsi, tapi saya pikir tempat ini enggak cukup,” tandasnya.

“Saya dan wartawan ini kan nasibnya sama. Jadi tahu sama tahu sajalah, pasti enggak akan cukup kalau saya bawa anggota DPD semua ke sini,” canda OSO.

Senator asal Kalimantan Barat ini juga bercerita, jika dirinya sudah memiliki kedekatan dengan wartawan sejak usianya 16 tahun. Jadi tidak heran kata dia, jika penutupan Rakernas SMSI mengundang dirinya.

“Saya tidak asing dengan wartawan. Sejak umur 16 tahun saya sudah kumpul dengan wartawan, dan waktu itu saya kumpulnya malah sama bodrex. Tapi alhamdulillah, di SMSI enggak ada bodrex ya,” ujar OSO yang disambut tepuk tangan peserta Rakernas.

“Tapi ya itu tadi, lama-lama saya juga ketemu dengan wartawan profesional, yang akhirnya saya berhasil bisa membuat majalah, tabloid bahkan koran,” cerita OSO.

Artinya kata OSO, wartawan baik yang ada di organisasi lain maupun SMSI memiliki derajat yang sama dengan siapapun termasuk lembaga yang ia pimpin.

“Wartawan itu dinilai bagus bukan dari penampilan semata. Tapi dari karya jurnalistiknya, dari ketajaman dan kejujuran tulisannya. Kalau baju, saya saja pakai jas enggak suka. Saya pakai jas karena ada pelantikan tadi, kalau saya harus ganti baju pulang ke rumah, bisa enggak terkejar. Jadi wartawan begitu juga, sekali lagi bukan dilihat dari tampilan dan seragamnya,” tukasnya.

Menyinggung soal organisasi SMSI, OSO dengan tegas mengatakan, bahwa SMSI adalah organisasi yang memiliki kejelasan arah ke depan.

“Ini pekerjaan produk massa depan. Jangan dikira sederhana. Tapi ingat, Organisasi ini membutuhkan dan sangat tergantung dengan teknologi, baik itu materialnya maupun pemikirannya. Jadi harus benar-benar disiapkan dengan baik,” ungkapnya.

OSO juga berpesan, jika SMSI akan jadi organisasi besar, maka harus memiliki arah dan tujuan yang jelas. Untuk itu kata OSO, SMSI wajib menerapkan istilah 5 S.

“Pertama Strategi. Strategi apa yang akan dibawa organisasi ke depan. Kalau hanya dasarnya uang atau massa. Organisasi enggak akan maju. Kemudian S kedua adalah struktur organisasinya seperti apa. Jangan karena dia loyal, kita ambil dia untuk duduk dalam sebuah organisasi. Akhirnya organisasi asal-asalan,” kata dia.

S ketiga kata OSO adalah Skill (kemampuan), yakni hanya orang-orang yang tepat yang bisa duduk dalam sebuah struktur. Dan S keempat ialah sistem.

Tanpa sistem, lanjut Oso organisasi terancam hancur berantakan. Kesalahan seorang anggota akan terlihat.

“Tanpa sistem, bisa amburadul. Kesalahan anggota bisa kelihatan bila sistemnya benar. Yang menghukum bukan ketua organisasi tetapi sistem,” tutur Oso.

Terakhir, speed dan target. Secara berkala organisasi harus mengevaluasi program yang sudah dan belum berjalan. Hal ini penting untuk mengukur kemajuan sebuah organisasi.

“Jadi bila kepengurusan itu lima tahun, lima tahun kepengurusan harus terukur. Harus ada hasilnya. Harus ada bukti. Program lima tahunan diukur setiap bulan, sehingga tahu kemajuan kita,” pungkas Oso.

Acara Rakernas tersebut, secara resmi ditutup dengan ditandai pemukulan gong oleh Oesman Sapta yang didampingi Ketua SMSI Auri Jaya dan sejumlah pengurus lainnya. (*/red)