Miris!! Sudah Sebatang Kara, Kakek Renta di Pamulang Ini Dituduh Serobot Tanahnya Sendiri

Miris!! Sudah Sebatang Kara, Kakek Renta di Pamulang Ini Dituduh Serobot Tanahnya Sendiri ()

TANGSEL - Permasalahan sengketa tanah di Kota Tangsel, nampaknya masih menjadi hal yang akan sulit diselesaikan.

Dimana sebelumnya sengketa tanah terjadi di wilayah Pondok Ranji, Ciputat Timur, saat ini hal tersebut (sengketa tanah) menimpa Baba Teoy (78), salah seorang warga Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel.

Dijelaskan Muhamad Roji, salah seorang ahli waris Baba Teoy, bahwa saat ini masalah persengketaan tanah yang menimpa ayahnya, sudah masuk ke meja hijau.

Tanah seluas 15420 m2, menjadi perdebatan alot, dimana sebelumnya dianjurkan penyelesaian Perdata, saat ini justru menjadi Perkara Pidana, dengan terdakwa ayahnya sendiri. Dalam perkara tersebut, Baba Teoy, dituduh menyerobot lahan, seperti yang tertuang dalam pasal 167 KUHP.

"Yang menjadi sengketa saat ini adalah girik 970. Dimana pemilik awal adalah Engkong saya, Kitan bin Tiah. Tapi, girik itu diakui juga sama Lurah Pondok Benda, Mochammad Sya'at, Djani Faranes dan Abdul Kawi," kata Muhamad Roji saat ditemui dilokasi, Kamis (9/8/2018).

"Jadi kalau versi mereka, girik 970 itu Abdul Kawi membeli ke Bapak Carut Bunge, seluas 8540m2, dan dikeluarkan girik 1130, sementara luas tanah sekira 8460 meter dibeli oleh Sabihi bin Saad dengan girik 1131, katanya setengah-setengah belinya," tutur pria yang biasa dipanggil Oji tersebut.

Menurut keterangan yang dibawa oleh Djani Faranes dan Abdul Kawi, Carut Bunge membeli tanah tersebut dari Bapak Kutil bin Tiah (saudara Kitan bin Tiah), sementara tanah dan surat tersebut tidak pernah diperjualbelikan oleh Kitan bin Tiah. Saat mediasi itu, tambahnya, pihak BPN menyimpulkan karena adanya perbedaan alas hak, disarankan untuk gelar perkara perdata. 

"Saat ini, kita sidang dengan tuduhan penyerobotan lahan itu, sudah sekitar 10 kali. Dalam tuduhannya, Baba Teoy dianggap memasuki pekarangan atau lahan orang lain, sementara, ayah saya sudah menempati lokasi yang saat ini menjadi sengketa, sejak 1960-an," pungkasnya.

Sementara itu, Lurah Pondok Benda Muhamad Sya'at belum dapat dimintai konfirmasi, karena tidak sedang berada di kantor. (ak)