Menderita Diabetes, Bolehkah Lakukan Diet Ketogenik?

Menderita Diabetes, Bolehkah Lakukan Diet Ketogenik? ((Ilustrasi/Net))

Oleh dr. Fiona Amelia MPH
 

JAKARTA - Diet ketogenik diklaim ampuh untuk menurunkan berat badan. Namun, amankah untuk penderita diabetes?

Menurunkan berat badan adalah suatu keharusan bagi penderita diabetes dengan berat badan berlebih atau yang mengalami obesitas. Ini bertujuan agar kendali gula darah bisa mencapai yang ditargetkan. Katanya, diet ketogenik efektif untuk itu. Namun, bolehkah ini diterapkan pada penderita diabetes mellitus?

Sekilas tentang diet ketogenik

Pola diet yang baik tidak hanya menyasar penurunan berat badan semata, tetapi juga massa lemak. Diet ketogenik memfasilitasi hal ini dengan memicu proses ketosis, yakni pemecahan lemak. Dalam keadaan normal, sel tubuh menggunakan glukosa—atau gula darah—yang berasal dari sumber karbohidrat sebagai sumber energi. Bila kadarnya tidak cukup, barulah lemak tubuh dipecah.

Namun dengan diet ketogenik yang tinggi lemak, tinggi protein, dan rendah karbohidrat, tubuh “dipaksa” untuk membakar lemak dan menggunakan hasilnya, yakni badan keton, sebagai sumber energi.

Proses peralihan sumber energi dari glukosa menjadi badan keton, rata-rata terjadi dalam waktu 2–4 hari setelah mengonsumsi diet rendah karbohidrat. Pada jenis diet ini, asupan karbohidrat dibatasi hanya 30 gram per harinya.

Manfaat diet ketogenik pada diabetes

Hasil kajian studi di tahun 2013 melaporkan bahwa penderita diabetes yang menjalani diet ketogenik mengalami perbaikan kontrol gula darah yang signifikan. Ini tampak dari kadar HbA1c yang lebih rendah, rata-rata penurunan berat badan yang lebih besar, dan kebutuhan insulin yang lebih kecil dibandingkan pola diet lainnya.

Temuan ini kembali dikonfirmasi empat tahun kemudian. Melalui penelitan selama 32 minggu pada penderita diabetes, didapati bahwa diet ketogenik lebih baik daripada diet diabetes rendah lemak dalam menurunkan berat badan dan mengendalikan kadar HbA1c.

Studi ini juga menemukan bahwa diet ketogenik bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida, serta meningkatkan kadar kolesterol HDL.

Risiko diet ketogenik pada diabetes

Meski bukti-bukti ilmiah menunjukkan manfaat yang nyata pada penderita diabetes, diet ketogenik juga memiliki risiko. Meningkatnya jumlah badan keton di dalam darah akibat diet ketogenik dapat memicu ketoasidosis, suatu kegawatdaruratan medis yang mengancam nyawa.

Risiko hipoglikemia (kadar gula darah rendah atau di bawah 70 mg/dL) akibat rendahnya konsumsi karbohidrat menjadi lebih besar pada penderita diabetes yang menggunakan insulin atau obat antidiabetes tertentu. Penderita diabetes dengan gangguan ginjal juga perlu berhati-hati sebab konsumsi makanan tinggi lemak dan protein dapat memperburuk fungsinya.

Di samping itu, diet ketogenik cenderung sulit untuk diterapkan dalam jangka panjang karena menuntut seseorang untuk mengonsumsi 80% sumber kalori dari makanan sehari-hari dalam bentuk lemak. Banyak studi yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah partisipan berhenti di tengah jalan (drop out) karena hal ini.

Dengan alasan yang sama pula, pola diet ini berpotensi menimbulkan efek yo-yo, yang membuat berat badan turun naik secara drastis. Kondisi ini juga tidak baik bagi kendali gula darah penderita diabetes karena cenderung fluktuatif.

Jadi, boleh atau tidak?

Sama seperti diet lainnya, diet ketogenik hanya akan bermanfaat apabila Anda konsisten menjalaninya. Dan meskipun bermanfaat, tidak berarti cocok untuk semua penderita diabetes. Sebelum mencobanya, tanyakan diri Anda, apakah sungguh-sungguh berniat atau sekadar ikut-ikutan? Diskusikan pula dengan dokter yang merawat, apakah pola diet ini benar aman bagi kondisi diabetes Anda. (klikdokter.com/red)