Mendagri Sebut Kinerja Pemkot Tangsel Rendah

Mendagri Sebut Kinerja Pemkot Tangsel Rendah ()

TANGSEL - Berdasar pada Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), merupakan kota dengan kinerja terendah, terlebih disematkannya predikat kota penyangga Ibu Kota.

Keputusan bernomor 100-53 tahun 2018, tentang Peringkat dan Status Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, memposisikan Kota Tangsel diurutan ke-47, secara Nasional, dengan skor 30701.

Hal itu (skor 30701), jauh dibandingkan dengan 'kota satelit' penyangga DKI Jakarta lainnya. Sebagai contoh, kota tetangganya, Kota Tangerang, yang berada diurutan 8, dengan skor 34020. Begitupun, Depok, Bogor dan Bekasi yang masih dalam 30 besar, dengan skor rata-rata diatas 3.2000.

"Dari keputusan tersebut kota Tangsel berada pada Peringkat 47 secara nasional dengan skor 3.0701. Namun jika dibandingkan dengan 'kota satelit' Jakarta yang lain. Kota Tangerang Selatan berada pada peringkat terendah," kata Koordinator Ikatan Alumni Sekolah Anti Korupsi (IKA SAKTI), Aan Widya Junianto, lewat rilisnya, Senin (1/10/2018).

"Kota Tangerang  berada peringkat 8 dengan skor 3.4020. Kota Bogor Peringkat 18 dengan skor 3.2860. Kota Depok pada peringkat 23 dengan skor 3.2670. Kota Bekasi pada peringkat 30 dengan skor 3.2154," tambahnya.

Pemberian skor dan peringkat tersebut ada beberapa aspek, fokus dan indikator kinerja untuk Evaluasi Kemampuan Penyelenggaran Otonomi Daerah antara lain, Aspek Kesejahteraan Masyarakat, Aspek Pelayanan Umum, dan Aspek Daya Saing Daerah.

Masing-masing aspek tersebut, fokus pada penilaian kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial dan seni budaya serta olahraga, penilaian pada pelayanan dasar dan pelayanan penunjang, dan penilaian kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah/infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumberdaya manusia.

"Penyelenggaraan pendidikan sarat pungli, pelayanan kesehatan yang belum baik, pengelolaan sampah yang tidak optimal serta berbagai infrakstuktur dan fasilitas yang kurang optimal," lanjutnya.

Aan menambahkan, penataan jalan yang kurang baik, tiang listrik ditengah jalan, trotoar jalan yang rusak, serta sarana transportasi (trans anggrek) yang belum bisa digunakan secara optimal, dan tidak dapat menyelesaikan masalah kemacetan di Kota Tangsel.

Belum lagi, imbuhnya, permasalahan kesenjangan dan pengangguran yang menjadi PR besar Kota Tangsel. 

" Kota Tangsel, harusnya mampu mensejahterakan masyarakatnya, memberikan pelayanan yang optimal dan berdaya saing kuat," pungkasnya. (*/ak)