Menag Himbau Masyarakat Tinggalkan Penceramah yang Membodohi Umat

Menag Himbau Masyarakat Tinggalkan Penceramah yang Membodohi Umat (ist)

NONSTOPNEWS.ID - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyebut saat ini ada penceramah di masjid-masjid yang tidak memberi pencerahan lewat dakwah yang disampaikan. Sebaliknya, dia menganggap ada ustadz yang justru membodohi umat.

Fachrul mengatakan para penceramah itu menggunakan dalil-dalil agama untuk menyebarkan ajaran-ajaran kekerasan dan intoleransi beragama. Dia berharap masyarakat tak sungkan untuk meninggalkan pendakwah seperti itu.

“Kita ingin juga mencerdaskan umat. Jadi sering saya katakan kadang-kadang kalau umat dibikin bodoh, enggak suka, tinggalin. Saya kadang-kadang suka marah,” kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Jakarta, seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (31/10/2019).

Dia memberi contoh dakwah seusai bencana alam tsunami menimpa Aceh pada 2004 silam. Fachrul, yang merupakan orang Aceh, sering mendengar penceramah yang menyebut tsunami sebagai cara Tuhan menghukum masyarakat setempat lantaran suka menanam ganja.

Mantan Wakil Panglima TNI itu menjelaskan bahwa mereka yang menanam ganja di Aceh hanya sedikit dan tinggal di pegunungan. Sementara tsunami menerpa masyarakat pesisir yang justru dia sebut sebagai ahli agama.

Menurut Fachrul, sebenarnya pendakwah bisa menjelaskan kepada jamaah bahwa Aceh berada di daerah rawan gempa karena ada pertemuan lempeng tektonik. Selain itu, lanjut Fachrul, penceramah juga bisa membimbing jamaah untuk mendoakan masyarakat Aceh yang terdampak bencana tsunami.

“Sebagai hamba Tuhan, kita wajib berdoa, mudah-mudahan tidak terulang kembali dan bencana ini cepat selesai. Itu artinya mencerdaskan umat, bukan membodohi umat,” tuturnya.

Menurut Fachrul, imam masjid punya peran penting dalam hal ini. Imam bukan hanya pemimpin salat berjamaah, tetapi juga sebagai orang terdepan yang menjaga masjid agar tetap menjadi tempat umat berkumpul dan bersatu.

Fachrul sempat bercerita soal peran masjid di zaman Nabi Muhammad SAW. Saat baru hijrah ke Madinah, Rasulullah langsung membangun Masjid Nabawi.

Menurut Fachrul itu adalah contoh bahwa masjid bukan hanya bangunan fisik tempat beribadah, tetapi juga sebagai pusat antarumat beragama memperkuat ikatan sosial.

“Dari setiap mimbar masjid harus disuarakan persatuan dan kerukunan umat, bukan sebaliknya. Masjid harus jadi tempat integrasi dan reintegrasi umat. Umat Islam harus bersatu dalam prinsip akidah dan ibadah,” tegasnya. (rtv/red)