Kerjasama 'Cucu' BUMN dan PT PITS Tangsel Senilai 340 Milyar Disoal, Bakal Digarap DPRD?

Kerjasama 'Cucu' BUMN dan PT PITS Tangsel Senilai 340 Milyar Disoal, Bakal Digarap DPRD?
Kerjasama 'Cucu' BUMN dan PT PITS Tangsel Senilai 340 Milyar Disoal, Bakal Digarap DPRD?
()

NONSTOPNEWS.ID - Presedium Pemantau dan Pengawas Pembangunan Tangerang Raya (P4TRA), menyoroti dan menyoal serius kerjasama investasi PT Tangsel Tira Mandiri (TTM) dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yakni PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (Tangsel), dalam usaha penyediaan air bersih atau air minum.

Diketahui, PT TTM ialah anak perusahaan dari PT PP Infrastruktur yang merupakan anak perusahan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT PP, yang melakukan investasi senilai 340 milyar, untuk pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Tangsel.

Menurut hasil pengamatan P4TRA, PT PITS adalah induk perusahaan BUMD Tangsel, seharusnya tidak beroperasional mengurus usaha, termasuk melakukan kesepakatan kerjasama dengan perusahan lain, seperti kerjasama investasi yang dilakukan dengan PT TTM.

“Dia kan induk, tapi kenapa beroperasi, apakah itu dibenarkan sesuai dengan aturan dan peraturan. Semestinya holding harus bentuk dulu anak-anak perusahaan, baik itu BUMD nya tentang air minum, atau yang lainnya,” kata sekertaris P4TRA Heryanto, yang akrab disapa Hery Lipkor, di kawasan BSD City, Sabtu (15/2/2020).

Dikatakan Hery Lipkor, secara prinsip sebagai  holding, PT PITS banyak menyimpang dari marwahnya sebagi induk perusahaan. Lebih jauh, menurutnya penyimpangan tersebut dapat berpotensi ke arah tindak pidana korupsi.

“Salah satu contoh masalah SPAM, yang dibangun dengan bekerjasama dengan PT PP, itu kan debitnya 200 liter per detik. Kita tanya hulu hilirnya sungai Angke itu dari mana ke mana, berapa kedalamannya, berapa debit air standarnya, itu harus ada kajiannya. Anggap saja di ambil 200 liter per detik, di kali 24 jam, itu ada 17.280.000 juta liter air di ambil, nah itu pastinya akan berdampak pada ekosistem lingkungan hidup disekitar,” terangnya.

Secara teknis, P4TRA meragukan perizinan pembangunan SPAM yang dilakukan PT TTM di sungai Angke, pun dengan nilai investasi dengan jumlah fantastis tersebut.

“Sedangkan sungai Cisadane yang jauh lebih besar ada salah satu perusahaan yang minta izin penambahan debit air, sampai sekarang ini belum dikasih. Investasi PT TTM apakah sudah melalui kajian yang mendalam?, secara nilai investasinya pun kalau mau di hitung bersama baru akan ketahuan. Intinya aneh lah, sangat aneh,“ tegas Hery.

Hery Lipkor juga mengatakan, bahwa hasil dari pengamatan pihaknya, telah disampaikan secara langsung ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangsel, sebagai lembaga pengawas, yang diterima langsung oleh Ketua DPRD dengan didampingi beberapa anggota lainnya, beberapa waktu lalu.

Terpisah, Ketua DPRD Kota Tangsel, Abdul Rasyid, mengakui telah menerima aspirasi daru P4TRA. Menurutnya, apa yang disampaikan P4TRA merupakan masukan positif untuk para anggota dewan yang memiliki fungsi salah satunya adalah sebagai pengawas Pemerintah.

“Kalau kita menyambut baik ya, karena itu kan berkaitan dengan penyampaian aspirasi masyarakat, kita mengucapakan terima kasih kasih banyak," ucap pria yang akrab disapa Ocil ini.

Baginya, masukan juga sebagauli tambahan energi bagi teman-teman DPRD. Karena itu masukan-masukan bakal menjadi satu rujukan bagi DPRD dalam mengambil langkah selanjutnya. (kibo)