Kenapa Prabowo-Sandi Percayakan Ketua Pemenangan Kepada Jenderal Djoko Santoso, Ternyata Ini Alasannya

Kenapa Prabowo-Sandi Percayakan Ketua Pemenangan Kepada Jenderal Djoko Santoso, Ternyata Ini Alasannya ((istimewa))

JAKARTA - Penunjukan Jenderal (Purn)  Djoko Santoso untuk memimpin Tim Pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno pada Pilpres 2019 tak banyak memunculkan kejutan. 

Djoko Santoso memang lebih dulu dikenal sebagai pendukung militan Prabowo sejak Pilpres 2014 lalu. 

Hal itu diungkap wartawan senior Aat Surya Safaat. Dirinya mengapresiasi bakal calon presiden Prabowo Subianto yang telah menunjuk mantan Panglima TNI itu untuk memimpin Tim Pemenangan Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno pada Pilpres 2019.

“Sepanjang yang saya amati, Djoko Santoso adalah jenderal yang sangat berdedikasi, mempunyai kemampuan lobi yang mumpuni, dan bisa diterima di semua kalangan. Tetapi dia dikenal tetap rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri,” katanya di Jakarta,
Rabu (12/8/2018).

Aat yang juga penulis buku “Djoko Santoso Bukan Jenderal Kancil” itu mengemukakan, keterangan tersebut menanggapi penunjukan Djoko Santoso sebagai ketua Tim Pemenangan sebagaimana dikemukakan Prabowo pada ulang tahun Djoko
Santoso pekan lalu.

Aat lebih lanjut mengemukakan, Djoko Santoso adalah sosok yang bisa berfikir jernih dan tajam untuk berbagai urusan, mulai dari strategi tempur, manajemen pengelolaan massa, reformasi TNI, penciptaan perdamaian, sampai mendorong kembali gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional.

“Djoko Santoso juga berpegang pada adagium jawa ‘Sepi ing pamrih rame ing gawe’, alias karya nyata yang diutamakannya ketimbang berwacana sampai berbusa-busa di depan
media untuk kepentingan pencitraan,” kata mantan Direktur Pemberitaan Kantor Berita ANTARA yang juga pernah menjadi Kepala Biro di New York itu. 

Menurut Aat, Djoko Santoso sendiri berulangkali menyatakan ingin memberikan kontribusi nyata dalam membayar hutang sejarahnya sebagai rakyat yang meniti karier militer mulai dari bawah hingga menduduki posisi tertinggi di TNI, yakni sebagai
Panglima TNI.

Ia juga menjelaskan, Djoko Santoso adalah tokoh yang mampu meredam konflik di Ambon pada 2002. Sebelumnya banyak kalangan berpendapat, konflik berdarah-darah yang bernuansa SARA dan sangat mengerikan itu akan selesai dalam 50 tahun.

Dua Pangdam XVI/Pattimura sebelumnya gagal meredam konflik tersebut. Tetapi ketika Djoko Santoso menjadi Pangdam Pattimura, konflik Ambon dapat diselesaikan dalam enam bulan. 

Para tokoh agama di Ambon, apakah Kristen, Katolik atau Islam mengakui prestasi gemilang putera Solo kelahiran 8 September 1952 itu.  

Sebelumnya, saat menjadi Danrem 072/Pamungkas di Yogya pada 1998, Djoko Santoso juga berhasil menjadikan demo sejuta massa untuk menjatuhkan Soeharto berjalan aman dan damai, bahkan tak satupun kaca retak, sementara Jakarta, Makassar, bahkan Solo saat itu bergolak, rusuh, dan mencekam. 

Juga, tentang Djoko Santoso, Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siraj beberapa kali mengatakan, Djoko Santoso adalah jenderal yang bersih dari pelanggaran HAM dan korupsi. Dia juga adalah tokoh di balik reformasi TNI. Dia juga bisa tegas terhadap Malaysia, bahkan terhadap Amerika, saat menjabat sebagai Panglima TNI. (*/red)