Karena BPJS, Pelayanan Perawat RSU Bhakti Asih Kota Tangerang Dikeluhkan Pasien

Karena BPJS, Pelayanan Perawat RSU Bhakti Asih Kota Tangerang Dikeluhkan Pasien ()

NONSTOPNEWS.ID - Keluhan pelayanan terhadap penerima fasilitas keluarga pasien Kartu Indonesia Sehat BPJS Kesehatan kembali mencuat. Kali ini, Euis (40), seorang keluarga pasien mengeluhkan pelayanan yang tidak maksimal Rumah Sakit Umum (RSU) Bhakti Asih, Jalan Raden Saleh, No. 10, Karang Tengah, Kota Tangerang.

Sebab, ketika dirinya hendak mendaftar di ruangan Poli Spesialis Syaraf, Kamar No. 5, Lantai 1 di rumah sakit itu seorang suster diketahui tanpa keterangan nama sempat menjawab pertanyaan Euis dengan bahasa yang tidak elok dan bahkan dengan nada membentak.

“Sebelumya saya dapat rujukan dari Puskesmas Pedurenan, dr. Dea Herawati untuk ke RSU Bhakti Asih ini. Karena baru pertama kali saya nanya ke suster, eh malah saya dibentak sama susternya,” terang Euis kepada wartawan, Jum’at (17/5/2019).

Dirinya sengaja menanyakan informasi waktu pemeriksaan dokter syaraf dan nomor antrian untuk suaminya.

‘”Ini mah bukan pasien saya, bukan urusan saya. Kemudian, suster itu menjawab lagi ‘Kalau ibu dapatnya dr. Amalia, di kamar No. 6’. Sedangkan di kamar nomor 6 masih tertulis untuk Dokter Spesialis Penyakit Dalam, udah jelas kan itu. Saat itu juga saya langsung diusir keluar kamar,” tutur Euis.

Pantauan dilokasi, tak hanya Euis saja yang mengeluhkan hal serupa, namun sejumlah pasien yang sedang menunggu ketika bertanya ke perawat mengaku mendapat jawaban ketus.

Mereka menganggap komunikasi pelayanab pemeriksaa pelayanan pasien di RSU Bhakti Asih dinilai buruk.

Tak hanya itu, hingga pelayanan di kantin disebutkan terlihat sekali tidak memperlihatkan nada bersahabat memberikan pelayanan yang baik.

Sebagian pengunjung mempertanyakan manajemen rumah sakit terkait bagaimana menjaga pelayanan maksimal. “Meskipun kami dari BPJS pasien gratis, tetapi negara membayar biaya kesehatan kami ke pihak rumah sakit,” ucap kakek yang enggan disebutkan namanya.

“Cucu saya didiamkan saja mas waktu membeli sesuatu. Malah karena pengelola kantin tidak punya kembalian sisa belanja kok kami dilarang menjajakan makanannya dengan nada ketus,” tukasnya. 

Sumber : penamerdeka.com