Jari 98 Sebut Corona Propaganda Amerika Ala Bogor, DBD Lebih Bahaya

Jari 98 Sebut Corona Propaganda Amerika Ala Bogor, DBD Lebih Bahaya (ist)

NONSTOPNEWS.ID - Pemerintah diminta lebih peduli dengan DBD atau demam berdarah dengue daripada virus corona (Covid -19).

Sebab, penularan DBD lebih cepat dan jumlah korbannya juga jauh lebih banyak. Sarana penularan demam berdarah sendiri berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus.

Begitu dikatakan Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari) 98, Willy Prakarsa, Jumat (13/3/2020). Menurutnya, virus corona berawal dari persaingan dagang antara Amerika Serikat versus China.

“Munculnya kekuatan ekonomi China telah menimbulkan kepanikan di negara Donald Trump tersebut. Hegemoni AS mulai dikikis habis oleh China. Perang dagang antar dua negara adidaya itu pun tak terhindarkan,” ujar Willy Prakarsa.

Sadar pengaruh China, khususnya dibidang ekonomi semakin kuat. Maka dimunculkanlah virus corona sebagai alat propaganda dunia untuk memusuhi dan mengkucilkan (isolasi) negara tirai bambu tersebut.

“Karena itu, saya sangat prihatin, kok pemerintah kita ikut terjebak dan hanyut dalam arus propaganda yang dimainkan oleh asing. Stop deh menggaungkan corona terus menerus. Cukup sudah bicara corona. Lebih baik pemerintah mencarikan solusi dan jalan keluar atas wabah yang lebih berbahaya dan korban lebih banyak yang ada di depan mata kita semua, DBD,” tegas Willy Prakarsa.

Willy juga mengatakan, propaganda virus corona ini tidak jauh dengan istilah yang sudah melekat dengan kita sejak puluhan tahun lalu. “Jadi, propaganda ini mirip istilah orang Bogor (Biar Tekor Asal Kesohor). Terbukti dana sudah disiapkan di WHO dan bisa diambil oleh negara manapun dengan syarat jumlah korban virus corona di negara itu sampai pada angka tertentu,” papar Willy.

Willy juga memprediksi, ending dari propaganda virus corona ini adalah menjadikan China musuh bersama. Sehingga hegemoni AS sebagai polisi dunia tetap kokoh tak tergoyahkan oleh negara manapun di dunia ini.

“Hentikan, sudah cukup kita terbawa arus propaganda virus corona ini. DBD itu jauh lebih berbahaya. Lebih baik pemerintah fokus dan mencurahkan seluruh kemampuan serta sumber daya yang ada untuk memberantas DBD daripada terus - menerus membicarakan corona,” tanda Willy.

Diketahui, Kementerian Kesehatan mencatat, sejak Januari hingga 11 Maret 2020, terdapat 17.820 kasus penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) di seluruh Indonesia.

"Jumlah kasus DBD per 11 Maret 2020 tercatat sebanyak 17.820 kasus," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (11/6/2020).

Dari jumlah itu, tercatat angka kematiannya berjumlah 104 kasus.

Jumlah ini jauh lebih banyak dari kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia yang berjumlah 24 kasus dengan kasus kematian berjumlah satu.

Siti menambahkan, kasus kematian akibat penyakit DBD paling banyak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Ada 32 (kasus kematian) dari 104 kematian ada di Provinsi NTT. Dari jumlah itu (32 kematian di NTT), sebanyak 14 kasus di antaranya terjadi di Kabupaten Sikka," lanjut Siti. (red)