Jari 98 Minta Jokowi Harus Libas Elite dan Parpol yang Rakus Jabatan

Jari 98 Minta Jokowi Harus Libas Elite dan Parpol yang Rakus Jabatan (Nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Momentum HUT RI ke- 74 dimanfaatkan oleh Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari) 98 mengingatkan pasangan Capres terpilih Jokowi - Amin.

Willy Prakarsa, Ketua Presidium Jari 98 mengatakan, usai pelantikan Jokowi - Amin pada 20 Oktober 2019 nanti, maka masa bakti 2019 - 2024 dimulai.

“Periode kedua ini harus benar - benar mampu menciptakan lapangan kerja. Harap waspada, lapangan kerja itu ada surat yang tersirat didalamnya berupa pemantik,” ujarnya, Jumat (16/8/2019).

Jika tidak mampu ciptakan lapangan kerja, minimal bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Maka soal lapangan kerja ini akan memantik rakyat untuk berontak dan menjadi revolusioner.

“Karenanya, Jokowi harus optimalkan kesejahteraan rakyat Indonesia dengan menciptakan lapangan kerja,” tegasnya.

Sementara itu, terkait sinetron perebutan jatah menteri dan jabatan - jabatan lain yang saat ini dipertontonkan oleh para elite parpol di hadapan rakyat, semakin menambah antipati masyarakat terhadap partai politik beserta tokoh - tokohnya.

“Tapi kita sebagai rakyat Indonesia tidak perlu khawatir. Kami dari Jari 98 optimis pak Jokowi mampu menenggelamkan hasrat biologis para elite yang haus dan rakus jabatan dan kekuasaan itu,” paparnya.

“Terlepas dari peranan parpol koalisi maupun oposisi, komposisi pemerintahan idealnya harus ada OPOSISI sebagai lawan dan itu menjadi tolak ukur agar ada keseimbangan melalui kritik sosial yang sifatnya membangun,” imbuhnya.

Seterusnya Willy juga mengatakan, modal dasar bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi adalah Persatuan dan Kesatuan. Oposisi di tiap pemerintahan sangat diperlukan, demokrasi yang sudah cukup baik harus terus dirawat. 

“Tanpa oposisi di sebuah pemerintahan, yang ada hanyalah bagi - bagi kue, maka Kiamatlah Republik tersebut. Karenanya, pak Jokowi harus babat habis elit dan parpol yang minta kursi dan jabatan ini itu. Harus diingat, rakyatlah yang berdaulat, bukan lagi kekuasan Oligarki,” tandasnya. (Rn/red)