Jarak Terdekat Tak Masuk, PPDB SMA/K Tangsel Disinyalir Mirip 'Jual Beli Sapi'

Jarak Terdekat Tak Masuk, PPDB SMA/K Tangsel Disinyalir Mirip 'Jual Beli Sapi' ()

NONSTOPNEWS.ID - Banyak orang tua menangis dan menyesalkan sistem zonasi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/K di Kota Tangsel tak dijalankan oleh pihak sekolah.

Hal ini kerena banyak siswa tak diterima sekolah, padahal jarak dari sekolah sesuai aturan zonasi. Di beberapa sekolah, anak didik dengan jarak hanya 800 meter justru harus menangis karena tidak diterima di SMA yang diinginkan.

Penelusuran dilapangan, ternyata hal itu disebabkan akibat oknum pihak sekolah diduga bermain dengan cara 'jual beli kursi' kepada wali murid berduit. Sehingga kuota kursi habis.

"Jarak saya ke SMA 5 itu cuma 800 meter. Masa kalah sama yang jaraknya lebih jauh. Kayak ada permainan dengan orang dalam, jadi anak saya tergeser dengan banyak alasan," ujar Yanti (bukan nama sebenarnya) kepada wartawan saat ditemui Rabu (17/7/2019) malam.

Hal senada disampaikan Eko, bahwa saat pendaftaran berlangsung, terdapat oknum yang menawarkan 'jalur belakang' dengan nominal harga yang cukup fantastis.

"Waktu itu saya ditawarin juga. (Oknum) mintanya Rp.10 juta, tapi saya tawar Rp.5 juta, eh akhirnya ngga masuk juga anak saya," kata Eko.

Diberitakan sebelumnya, Praktik jual beli bangku di PPDB SMA dan SMK Negeri, terus merebak. Hal senada terjadi di SMA Negeri 7, Serpong Utara, Kota Tangsel.

Salah seorang oknum menawarkan angka Rp.20 juta, untuk melancarkan pendaftaran dan masuk ke SMA tersebut.

"Bukan saya yang ngurus, ada orang dinasnya. Kalau di SMA 7 ini 20 (Rp.20 juta) pak. Kalau di SMA 2 malah 30," kata salah seorang panitia.

Saat Nonstopnews.id mencoba menghubungi salah seorang oknum panitia PPDB berinisial N, angka yang dimaksud (Rp.20juta) merupakan harga pasaran.

"Itu (Rp.20juta) udah pasaran pak. Tahun lalu anak-anak polisi juga saya bantunya segitu. Kalau kemahalan, udah saya kasih 18 (Rp.18juta) deh. Nanti keponakan bapak tinggal daftar aja," kata N, saat dihubungi via telepon aplikasi whatsapp.

Oknum tersebut menambahkan, bahwa jarak bukan menjadi masalah.

"Waktu itu saya bantu juga. Rumahnya malah di Pagedangan (Kabupaten Tangerang). Tapi anaknya bisa sekolah disini (SMA 7 Tangsel)," tambahnya. (Ak)