Ini Kronologis Siswa Baru di SMA 6 Tangsel, Sebelum Namanya Hilang Sempat Beli Seragam Dan Ikuti MOS

Ini Kronologis Siswa Baru di SMA 6 Tangsel, Sebelum Namanya Hilang Sempat Beli Seragam Dan Ikuti MOS ((istimewa))

TANGSEL - Muhammad Fadilah Husein saat ini harus berdiam diri dirumahnya, sebab hingga saat ini status pelajarnya di SMAN 6 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masih belum jelas, meski sebelumnya ia telah dinyatakan diterima disekolah tersebut.

Bahkan Muhammad Fadilah Husein, sempat mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS), dan orang tuanya telah membeli seragam dari sekolah tersebut.

Ditemui secara langsung dirumahnya di Jalan Waru I Rt 001/Rw 03 Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel, Leonita Sugiarti ibu dari Muhammad Faddilah menceritakan ihwal sebab anaknya tak terdaftar sebagai peserta didik baru di SMA N 6 Kota Tangsel.

"Dihari terakhir pengembalian berkas Jum'at 13 Juli lalu, sampai disekolah katanya sudah tutup dan saya diminta untuk datang lagi pada hari Senin. Lalu di hari itu selesai upacara saya baru diantar masuk ke salah satu ruangan, ternyata pak Aditama selaku ketua panitia tidak ada, menurut keterangan pihak sekolah, yang bersangkutan sedang berada di Solo. Kemudian saya menemui pak H.Nurdin selaku penggati pak Aditama, tapi yang bersangkutan hanya menjawab itu tidak ada urusan dengan saya," ujar Leonita, Minggu (29/7/2018).

Kepada wartawan Leonita mengaku merasa mendapat pelayanan yang kurang baik dari pihak sekolah, dan proses pengembalian berkas anaknya seperti sengaja dipersulit.

Kemudian, dikarenakan proses pengembalian berkas yang tak kunjung selesai, sementara saat itu disekolah tersebut sudah memulai kegiatan MOS atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), akhirnya Leonita memberanikan diri menyuruh anaknya mengikuti kegiatan tersebut, berdasar pada bahwa nama anaknya memang telah ada didaftar peserta didik baru yang diterima di SMA 6 Tangsel. 

Terhitung selama MOS, Leonita terus bolak balik ke SMA 6 Tangsel untuk memproses pengembalian berkas, namun hasilnya tetap nihil. Ia mengatakan Aditama sangat sulit ditemui, sementara H. Nurdin pun bersikap sinis sejak awal ia mengungkapakan maksudnya. 

"Pada saat tanggal 16 Juli itu saya kan masih binggung ya, saya masih berharap ketemu sama panitia Pelaksanaan PPDB nya, tapi karena pak Nurdinnya begitu dan saya juga kecewa. Terus ketika saya ke kantin dan melewati Koperasi, terus saya bertanya soal nebus seragam, setelah salah satu pegawai mengecek berkas anak saya, pegawai itu menyatakan bahwa anak ibu telah diterima karena ada bukti kertas yang menyatakan anak saya telah diterima di sekolah itu, dan akhirnya saya pun membeli seragam atas anjuran pegawai koperasi sekolah tersebut, seharaga 570 ribu rupiah," lanjut Leonita.

Kemudian pada hari Senin, awal dimulainya proses belajar mengajar, Leonita merasa heran ketika anaknya pulang ke rumah ketika waktu masih menunjukan sekitar pukul sembilan pagi. Kepada ibunya Muhammad Faddilah Husein pun menceritakan perihal dirinya pulang lebih awal dari biasanya.

"Anak saya merasa malu, katanya saat pembagian kelas dia lihat namanya dipapan tidak ada, baik dikelas IPA maupun IPS. Kata anak saya ada dua orang katanya yang dipanggil sama guru bagian kurikulum bernama Diani, kemudian setelah menghadap anak saya disuruh pulang, sementara yang satunya lagi tidak," kata Leonita seraya menirukan dialog sang anak, saat anaknya dipulangkan oleh pihak sekolah.

Dari cerita putranya, Leonita menyampaikan, pada saat anaknya dipanggil oleh salah satu guru sekolah, ada beberapa pertanyaan yang menurutnya tak pantas ditanyakan oleh seorang guru kepada seorang anak. 

Leonita menyesalkan atas apa yang terjadi pada anaknya, hingga saat ini status anaknya pun masih belum jelas, dia juga sangat mengawatirkan kondisi psikologi sang anak.

"Terkait anak sekolah yang dikeluarkan, itu sedang kita bicarakan, nanti di cek dia dari jalur apa. Nanti kalau daftar namanya ada apa kesalahanya, tadi saya dengar katanya karena telat mengirim data, datanya telat ingin dikirim kesiapa gitu kan, kan itu mah gampang, tinggal kita cek kesalahannya dimana, kalau memang namanya udah ada terus datanya udah ada bisa disisipkan lagi itu kan memang sudah resmi kalau memang sudah ada," kata Budi selaku Humas SMA 6 Tangsel, pada saat menerima kunjungan anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten Kori Priadi, Kamis (26/7/2018).

Sementara itu, Aditama selaku ketua panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA 6 Tangsel, belum dapat dikonfirmasi perihal terkait, meski beberapa kali telah dihubungi oleh wartawan baik melalu sambungan telpon selluler maupun melalui pesan Applikasi WhatsApp. (*/ak)