#IndonesiaTerserah, Pengamat : Ada Pola Kapitalisasi Isu

#IndonesiaTerserah, Pengamat : Ada Pola Kapitalisasi Isu
#IndonesiaTerserah, Pengamat : Ada Pola Kapitalisasi Isu
(Ilustrasi/Net)

NONSTOPNEWS.ID - Peningkatan jumlah terinfeksi covid-19 dalam 2 hari terakhir memuncak, tercatat tanggal 21 Mei 2020 ada 973 kasus baru, membuat rekor penambahan tertinggi selama Indonesia terinveksi virus tersebut.

Di media sosial ramai #indonesiaterserah sebagai aksi protes atas kebijakan pemerintah yang kerap berubah-ubah dan banyaknya masyarakat yang berkerumun seakan tidak peduli atas pengorbanan para petugas medis selama ini.

Menyikapi hal tersebut pengamat sosial politik Tamil Selvan yang pernah mengatakan bahwa gelombang kedua corona bisa seperti tsunami angkat bicara. Menurutnya semua kekacauan ini karena pemerintah tidak punya target yang jelas dalam menyambut 'new normal life'.

"Ketika pemerintah membuka jalur transportasi di zona merah, saya sudah katakan didaerah akan terjadi tsunami corona. ini karena sikap pemerintah dalam mengimplementasikan 'hidup berdamai dengan corona' atau 'new normal life' tidak jelas. Saya pribadi sepakat dengan konsep tersebut, tapi cara pemerintah ngawur,"  tegas pengamat yang akrab disapa Kang Tamil ini kepada awak media, Jumat (22/5/2020).

Dirinya mengatakan jika pemerintah sejak awal mempersiapkan konsep aturan dan sanksi yang jelas tentang hidup berdasarkan physical distancing, maka pengerumunan orang dapat dicegah.

"Sanksi tegas itu perlu, sebab esensi keadilan ada disana. Saat ini pasar ditutup tapi Industri dibolehkan, kerumunan di bandara terjadi dan tidak ada sanksi. Maka ketika pedagang memaksa membuka secara massal, tentu terjadi kekacauan. Mereka tidak bisa disalahkan, karena cicilan hutang terus berjalan. Mana kebijakan pemerintah yang akan menangguhkan hutang dimasa pandemik ini? mereka tetap diminta bayar cicilan bunga, mau bayar pakai apa? Jadi pemerintah yang kurang jeli," papar pemilik akun youtube @KangTamil ini.

Dirinya mengakui bahwa banyak masyarakat yang setuju dengan konsep new normal life, namun harus memperhatikan masyarakat kecil dan UMKM.

"Masyarakat mendukung konsep 'new normal life', yang tidak didukung adalah sikap plin-plan pemerintah. Jika sejak awal pemerintah menerapkan pengaturan jaga jarak di pasar, dan bergerak cepat ketika terjadi kerumunan, tentu kekacauan dapat diminimalisir. Pasar di Salatiga bisa, kenapa ditempat lain tidak. Ini soal kemauan dan orientasi strategi, menurut saya," Kata Kang Tamil.

Lebih lanjut Kang Tamil mensinyalir ada oknum yang mengkapitalisasi isu seolah para tenaga medis menyerah karena situasi kurang terkendali, sehingga muncul tagar tersebut. Sebab para tenaga medis melakukan pekerjaan sesuai sumpahnya dan itu yang membuat mereka mulia.

"Saya lihat ada pola kapitalisasi yang mengatasnamakan para tenaga medis, seolah mereka kesal dan kecewa. Para tenaga medis itu mulia, mereka tahu apa yang mereka kerjakan sesuai sumpahnya. Ngak ada tenaga medis yang bisa bikin tagar begitu, kerjaan buzzer mungkin. Beberapa teman dokter saya juga memaklumi sikap pemerintah yang harus menjaga siklus ekonomi, yang mereka kritisi adalah caranya," tambahnya.

Kang Tamil mengatakan bahwa tidak ada yang tahu akhir dari masa pandemik ini, sehingga pemerintah harus mengambil langkah antisipasi yang jelas dan tegas.

"Tidak ada jaminan di daerah yang kurva nya telah menurun, tidak akan terinfeksi kembali. Jadi 'new normal life' adalah solusi terbaik menurut saya, tinggal lagi kunci kesuksesannya ada pada sikap antisipasi dan konsep yang akan dilakukan pemerintah. Sejauh ini belum menurut saya," tutupnya. 
(*/mi)