Gara-gara Musim Kemarau Panjang, Provinsi Banten Tertinggi Soal Jumlah Pengangguran

Gara-gara Musim Kemarau Panjang, Provinsi Banten Tertinggi Soal Jumlah Pengangguran (Kepala BPS Banten, Adhi Wiriana/ist)

NONSTOPNEWS.ID - Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Banten mencatat dari 34 provinsi di Indonesia, Banten mengepalai tingkat pengangguran tertinggi. Angka itu mencapai 8,11 persen.

“Agustus 2019 ini relatif kecil ketimbang agustus 2018. Turun sekitar 0,4 point, dari 8,52 persen menjadi 8,11 persen. Tapi angka itu masih menjadikan pengangguran Provinsi Banten tertinggi se-Indonesia, selanjutnya Jawa Barat,” terang Adhi Wiriana, Kepala BPS Provinsi Banten, Selasa (5/11/19).

Adhi menjelaskan, angka rata-rata penggguran nasional pada periode Agustus 2019 berada pada angka 5,28 persen. Kemarau panjang menjadi salah satu sebab, yakni banyaknya petani yang menganggur.

Penyebab lainnya lagi adalah sejumlah perusahaan gulung tikan dan terjadi pemutusan hubungan kerja. Tak hanya itu saja, sejumlah perusahaan di wilayah Banten pindah keluar daerah.

“Industri yang ada di Banten seperti Krakatau Steel kemarin banyak melakukan pemecatan, dan juga ada peralihan dua industri di Tangerang Selatan, sehingga pengangguran meningkat,” jelasnya.

Dia menuturkan, Kabupaten Serang menjadi wilayah dengan pengangguran tertinggi di Banten. Meski angka pengangguran mengalami penurunan 12.58 persen menjadi 10.65 persen.

“Berarti Pemkab Serang sudah berusaha maksimal menurunkan angka pengangguran. Karena di Kabupaten Serang kawasan industri, sehingga banyak pendatang dari luar daerah yang ingin mencari kerja. Sementara yang datang belum tentu diterima semua,” tuturnya.

Adhi menambahkan, lulusan SMK di Provinsi Banten belum link and match dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang ada. Dia menyarankan agar kurikulum SMK disesuaikan dengan revolusi industri 4.0

“Misal SMK otomotif, padahal di sini tidak ada pabrik mobil, yang biasanya ada di Bekasi itu mengakibatkan lulusannya tidak diterima pasar kerja,” ungkapnya.

“Sedangkan lulusan perguruan tinggi menyumbang angka pengangguran 0,4 persen. Sekarang ini bagaimana perguruan tinggi supaya diterima pasaran kerja sesuai kebutuhan pasar kerja,” tutupnya. (pm/red)