Disdukcapil Tangsel Mirip Pasar, Dari 5 Alat Cetak KTP Nganggur Hingga Koordinasi yang Semrawut

Disdukcapil Tangsel Mirip Pasar, Dari 5 Alat Cetak KTP Nganggur Hingga Koordinasi yang Semrawut
Disdukcapil Tangsel Mirip Pasar, Dari 5 Alat Cetak KTP Nganggur Hingga Koordinasi yang Semrawut
(Nonstopnews.id)

NONSTOPNEWS.ID - Pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kota Tangsel sekira sebulan terakhir banyak dikeluhkan masyarakat.

Robi, warga Cirendeu salah satu contohnya, dirinya sudah sering meminta ijin ditempatnya berkerja untuk mengurus e-KTP, namun hingga kini tidak kunjung selesai.

"Saya tuh takut dipecat mas di tempat kerja saya karena sering ijin. Ijin ini kan demi merampungkan e-KTP saya, tapi sampai saat ini belum jadi juga. Ribet banget mas, ada kali saya bulak-balik itu 3 atau 4 kali gitu dan jaraknya kan jauh," kesal robi saat diwawancarai, Selasa (20/2/2019).

Menurut Robi, seharusnya di zaman yang sudah sangat maju ini dimana semuanya serba online dan digital, untuk sistem pembuatan e-KTP menjadi semakin mudah. Bahkan menurutnya seharusnya warga membuat e-KTP di kelurahan bisa selesai dalam 1 hari.

"Zaman online, uang pun virtual kan sudah. Sistem pembuatan e-KTP sekarang, khususnya di Tangsel ini kaya masih jaman dulu gitu. Kita desak-desakan, antri berjam-jam, padahal kan sekarang itu serba online, jadi dari online pun seharusnya sudah kelar e-KTP kita, tinggal ngambil aja," sindirnya.

Lain lagi dengan Maryati warga Kademangan, Setu. Ia juga mengeluhkan masalah alat perekaman yang beroperasi jumlahnya hanya 3 buah saja. Menurutnya, jika alat itu ditambah dan ruang perekaman diperluas maka akan semakin cepat selesai

"Ga tau dah ini mesin kapan. Saya lihat cuma 3 yang beroperasi. Coba aja pikir perhari kuota itu 500 sedangkan alat cuma 3. Saya mah ga papa toh selama nunggu bisa pulang dulu, yang kasian itu petugasnya malah. 3 orang ngurus segitu banyaknya orang kan ngos-ngosan banget," ujarnya.

Pantauan Nonstopnews.id, semprawutnya pelayanan pembuatan KTP diantaranya disebabkan 5 alat pencetak KTP tak berfungsi. Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengoperasikan alat tersebut, menjadi alasan kenapa alat-alat tersebut menganggur.

Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Dukcapil Kota Tangsel, Dedi Budiawan. Dedi menjelaskan alasan tak berfungsi kelima alat pencetak KTP.

"Sebetulnya alat kita punya sepuluh, rusak dua, jadi ada delapan, dan tiga yang difungsikan, nah kenapa semuanya tidak difungsikan karena terus terang katakanlah SDM tidak ada," jelas Dedi, dihimpun dari berbagai sumber.

Ia melanjutkan, sebetulnya bisa saja SDM diambil dari bidang lain atau dari staf lain untuk difungsikan, namun permasalahannya adalah tidak memiliki ruang yang cukup untuk menampung warga yang datang di kantor Disdukcapil.

"Catat gede-gede ni. Kan 500 kuota dengan tiga alat sudah penuhnya kayak apa, bayangkan kalau delapan alat? Sudah seribu lebih orang disuruh datang, nggak muat kali bang sampai kelapangan juga. Itu problemnya," tegasnya.

Dedi menambahkan, saat ini inovasi sementara yang dilakukan yaitu dengan membuka pelayanan hari Sabtu sampai dengan 13 April. Karena pendaftaran melalui sistem online baru buka dua minggu sehingga antrean di sistem online sudah 5000 orang yang membuat warga mengeluh sulitnya daftar online.

"Jangka panjangnya, mudah-mudahan sebelum Pemilu, pelayanan khususnya KTP juga KK, KIA dan lainnya akan dilimpahkan, akan didelegasikan ke kecamatan," katanya.

"Kalau sekarang kan perekaman saja, nanti cetak pun disana, nah baru ketemu dua ribu, alatnya kita sebar satu perkecamatan, di kantor kita satu," jelasnya lagi.

Dedi berdalih, bahwa dirinya yang baru menjabat selama delapan bulan, tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas permasalahan ini.

"Kok kenapa baru sekarang pertanyaannya. Tanya kadis yang lama, saya baru delapan bulan menjabat," tandasnya.

Dedi juga meminta pihak yang mengkritiknya melihat masalah pelayanan Disdukcapil Tangsel secara menyeluruh alias bukan hanya momen sekarang saja.

"Yang sudah tujuh tahun pak Toto, tanya ke Pak Toto kenapa? Saya baru delapan bulan disini. Saya pikirin bagaimana caranya, sampai-sampai berkorban waktu, masak nggak dihargai sama wartawan. Aneh saya mah, disalahin terus," keluh Dedi.

Terpisah saat dikonfirmasi, Asda I Tangsel, Rahmat Salam justru belum mengetahui perihal menganggurnya kelima alat cetak KTP tersebut.

"Ohh pada numpuk, saya belum tau. Nanti saya cek dan saya tanyakan lagi kenapa alat percetakannya cuman berfungsi tiga, saya malah baru tau sekarang," pungkasnya. (ak)