Dindikbud Banten Bayar Lahan SMK 7 Lewat Perjanjian 'Bawah Tangan', Kok Bisa??

Dindikbud Banten Bayar Lahan SMK 7 Lewat Perjanjian 'Bawah Tangan', Kok Bisa?? (Istimewa)

TANGSEL - Proses pembangunan SMK 7 Tangsel, yang terletak di Kelurahan Rengas, Kecamatan Ciputat Timur, masih terus dilakukan.

Meski sebelumnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten, mengetahui bahwa lahan lokasi sekolah tersebut tidak memiliki akses jalan.

Diakui Lurah Rengas, Agus Salim, bahwa tim Dindikbud Banten pernah melakukan survei ke lokasi. Saat itu, mereka tahu bahwa lokasi untuk sekolah tersebut tidak memiliki akses jalan, namun Dindikbud tetap melakukan pembebasan lahan.

“Kami sudah dapat surat dari Pemkot bagian aset yang menyatakan bahwa pagar atau jalan (menuju lokasi SMK 7) tersebut merupakan aset Pemkot. Jadi akses lewat situ,” imbuh Agus.

Sementara, Camat Ciputat Timur Durrahman memastikan peralihan lahan dari pemilik lahan ke Dindik Banten telah dituangkan dalam Surat Pelepasan Hak (SPH).

Namun pihak Dindikbud Banten yang kala itu diwakili Sekretaris Dindik Banten Ardiyus, tidak memberikan salinan dokumen kepemilikan tanah, termasuk pula SPH.

“Sampai saat ini kami tidak diberikan salinan dokumen maupun SPH. Memang sempat Pak Ardiyus berjanji akan memberikan salinan, tapi sampai sekarang nggak ada itu (dokumen dan SPH),” kata Durrahman.

Direktur LBH Tangsel Zulman Haris menilai, terjadi kejanggalan dalam proses penjualan lahan dari Suyut kepada Agus yang dituangkan melalui PPJB.

Pasalnya, proses jual beli antara Suyut dengan Agus berpotensi menghilangkan pajak 10 persen karena menggunakan PPJB yang nota bene dianggap perjanjian dibawah tangan.

Sejatinya jual beli tanah dituangkan dalam Akte Jual Beli (AJB). Sebab dengan AJB, potensi pajak sebesar 10 persen, akan dibebankan negara kepada penjual dan pembeli.

“Kami menganggap Dindikbud Banten keliru karena melakukan pembebasan lahan dengan dasar kepemilikan PPJB dari Agus. Ada potensi pajak buat negara hilang sebesar 10 persen. PPJB itu kan legalitasnya tidak kuat, karena sama saja di bawah tangan,” kata Zulman. (*/ak)