Diduga Mark Up Hingga Ratusan Juta, Pengadaan Trans Anggrek Dianggap Sia-sia

Diduga Mark Up Hingga Ratusan Juta, Pengadaan Trans Anggrek Dianggap Sia-sia (Nonstopnews.id)

TANGSEL - Pengadaan Bus Trans Anggrek, tahun 2015 lalu, diduga sarat perbuatan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Mulai dari pengadaannya secara terpisah, baik chassis truck, karoseri pembuatan, hingga harga yang diduga mark up.

Menanggapi hal itu, Koordinator Aliansi Tangerang Raya Tatang Sago menyatakan, pengadaan bus seharusnya bermanfaat bagi masyarakat Tangsel. Namun, tambahnya, disisi lain pemanfaatan tersebut, masih ada oknum-oknum yang mengambil kesempatan.

"Pengadaan bus itu, harusnya bermanfaat bagi masyarakat. Itu sebenarnya tujuan utamanya. Disisi lain, ada aja oknum pejabat yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dan itu bukan rahasia umum lagi," kata Tatang lewat pesan whatsappnya, beberapa waktu lalu.

"Di tangsel banyak oknum yang kami laporkan ke aparat. Cuma anehnya, hanya KPK yang merespon, yang lain hanya diam. Makanya, saya ajak teman-teman yang konsen dalam pemberantasan korupsi, agar memberikan laporan langsung ke lembaga anti rasuah tersebut, agar para oknum pejabat dicokok, dan dijebloskan ke dalam jeruji KPK," tutupnya.

Di dalam Perpres no 54 tahun 2010 mengatur bahwa, dalam pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan dalam satu kesatuan, dilarang diadakan dengan terpisah.

Sementara, dalam lelang sederhana yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishub Kominfo) Kota Tangsel, nampak bahwa pengadaan Bus Trans Anggrek dilakukan dalam satu kesatuan, berbeda dengan aplikasi di lapangan.

Dalam data yang diterima, terdapat selisih Rp. 130 juta per unitnya. Belum lagi, pengadaan yang dianggap menyimpang, karena prosesnya melalui penunjukan langsung, tanpa proses lelang, dimana bus tersebut sudah didesain khusus, dan tak lagi menggunakan standar perusahaan, atau sudah dipecah dengan cara membeli terpisah antara mesin dan karoseri.

Dari nota pembelian, nampak bahwa yang ditawarkan oleh PT. Arista Jaya Niaga adalah truck chasis dengan harga Rp. 233 juta (sudah termasuk bbn 5%), dan harga karoseri PT. Restu Ibu Pusaka Rp. 264 juta (sudah termasuk PPN). Harga tersebut, belum berbicara diskon yang kemungkinan ditawarkan oleh pihak Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).

Hal tersebut diatas, tidak sesuai dengan harga pengakuan Dishub Kominfo Tangsel, yang tertuang dalam surat Nomor 551.2/806/ANGK tertanggal 22 April 2015, di harga Rp. 627 juta.

Pasalnya, jika melalui lelang berdasarkan E-Katalog yang diberikan oleh ATPM Hino, maka bus tersebut lengkap dengan karoseri dari New Armada.

Pada temuan di lapangan, oleh sumber yang tidak dapat disebutkan namanya, Bus Trans Anggrek Kota Tangsel, tidak tertera logo ATPM Hino, namun setelah ditelusuri dan disurati, Dishub Kominfo Tangsel, memberikan 'tempelan' logo ATPM tersebut.

Hingga kini, manfaat dari busbtersebut belum mewakili kebutuhan masyarakat Tangsel, sehingga dianggap sia-sia. Terlebih besarnya anggaran Biaya Operasional bus tersebut, yang memakan miliaran rupiah per tahunnya.

Sementara pihak Dishub Tangsel belum dapat dikonfirmasi. Keterangan dari Dinas tersebut, akan dimuat dalam pemberitaan selanjutnya, apabila sudah dapat dimintai informasi. (ak)