Dibelakang Kawasan Elit BSD City, Ibu Kuli Sapu Ini Menangis Dikasih 'Hadiah' Polisi

Dibelakang Kawasan Elit BSD City, Ibu Kuli Sapu Ini Menangis Dikasih 'Hadiah' Polisi
Dibelakang Kawasan Elit BSD City, Ibu Kuli Sapu Ini Menangis Dikasih 'Hadiah' Polisi
((istimewa))

TANGSEL - Mamah (56) warga Kampung Pugur, Desa Pagedangan, Kabupaten Tangerang tak bisa menyembunyikan air matanya ketika para tukang sedang menyelesaikan pekerjaan akhir terhadap rumahnya. Ia tampak menangis, terharu dengan apa yang terjadi. 

Mamah beruntung, rumahnya yang dulu tak layak huni sudah rampung melalui program bedah rumah oleh jajaran Polres Kota Tangerang Selatan, Polsek Pagedangan.

“Saya tidak menduga sama sekali, jika doa kami setiap malam kepada Maha Kuasa, akhirnya dijabah Allah dan menjadi kenyataan,” tuturnya, Kamis (06/09/2018).

Wanita yang keseharian berprofesi sebagai kuli sapu jalanan ini hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada polisi. 

"Saya berterima kasih kepada pak polisi,  semoga kebaikannya diterima Allah," ungkapnya lirih. 

Dalam perbincangannya, sebagai kuli sapu di kawasan elit Bumi Serpong Damai (BSD), Mamah mengaku hanya berpenghasilan kurang lebih Rp 40 ribu perhari. 

“Yah ga bisa dengan gaji segitu pak buat benerin rumah, buat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja tidak cukup,” ungkapnya.

Ia pun mengaku banyak menerima bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

“Alhamdulillah, ada aja yang ngasih.  Warga banyak yang bantu untuk bisa bertahan hidup, dua anak saya masih kecil-kecil,” imbuhnya.

Ironis memang, lokasi rumah Mamah yang hanya selemparan batu dari kawasan elit BSD City, selama ini tak bisa menikmati suksesnya manfaat pembangunan kota. Deretan kemajuan mulai mal, dealer mobil mewah sampai gerai makanan cepat saji hanya bisa dinikmati Mamah melalui mimpi. 

Sementara itu, Muhtadi, ketua rt setempat membenarkan bahwa kondisi rumah yang ditempati warganya itu sangat tidak layak huni dan tidak sehat.

“Dengan beratapkan seng yang sudah tua dan berdindingkan seng, kondisi sebelum dibedah sungguh sangat memprihatinkan, dan tidak layak huni,” katanya.

Kini Mamah bisa tersenyum, rumah yang berdiri diatas lahan 50 meter persegi itu sudah terlihat indah dan memanjakan mata. Selamat Ibu Mamah.  (ak)