Di Tangsel Banyak Pernikahan Usia Dini Sebab Hamil Diluar Nikah, Salah Siapa? 

Di Tangsel Banyak Pernikahan Usia Dini Sebab Hamil Diluar Nikah, Salah Siapa? 
Di Tangsel Banyak Pernikahan Usia Dini Sebab Hamil Diluar Nikah, Salah Siapa? 
(Istimewa)

NONSTOPNEWS.ID - Data dari kantor Kemenag Tangerang Selatan menyebut, pernikahan usia dini di kota yang berjuluk Cerdas Modern Religius (Cimor) hampir mencapai 20 persen atau sekira 1400 pasangan muda dari total angka pernikahan selama tahun 2018.

Total angka pernikahan di kota Tangsel sendiri tahun 2018 tercatat antara 7 sampai 9 ribu pasangan.

Yang membuat ironis adalah pernikahan usia dini tersebut rata-rata dilatar belakangi oleh persoalan hamil diluar nikah. 

“Rata-rata karena accident (hamil diluar nikah red), ada juga permintaan orang tua, karena menghindari perzinahan bagi putra-putri mereka,” kata Kepala Kantor Kemenag Tangsel, Abdul Rojak kepada wartawan, Kamis (3/1/2019).

Rojak juga mengatakan, selain hamil diluar nikah, banyak pula orang tua menikahkan anaknya di usia dini karena sebagai tindakan pencegahan dari pergaulan bebas. 

"Ada juga permintaan orang tua, karena menghindari perzinahan bagi putra-putri mereka,” ujar Rojak.

Lanjutnya, pernikahan usia dini dilakukan oleh rentang usia setingkat pelajar SMA. 

“Usia SMA atau dibawah 19 tahun,” paparnya. 

Ditanya soal solusi menekan untuk berkurangnya pernikahan usia dini, Kemenag Tangsel memberikan penyuluhan secara berkelanjutan. 

“Pembinaan kami terus lakukan bersama dinas DPMP3KB. Dari mulai penyuluhan pra nikah bagi calon pengantin, yang nantinya ada sertifikasinya, kalau tidak keluar itu pasangan tidak bisa menikah. Bagi pelajar juga kami ada penyuluhan,” tuturnya.

Dikesempatan terpisah, saat dihubungi Nonstopnews.id , Minggu (6/1/2019), pengamat sosial  Tamil Selvan, memberi tanggapannya bahwa pernikahan dini sebab hamil diluar nikah adalah suatu yang ironis dan perlu menjadi perhatian serius oleh berbagai pihak. 

"Ini ironis. Orang tua harus lebih peka kepada perkembangan anak zaman sekarang, mulai lebih mengarahkan anaknya kepada taat agama. Selektif pengaruh medsos, misalnya dengan melakukan pembatasan memberi uang untuk beli kuota internet," kata pria yang akrab disapa Kang Tamil ini. 

Bukan itu saja, dinas di pemkot Tangsel juga harus selalu proaktif memberi penyuluhan kepada masyarakat. 

"Dinas terkait jangan hanya melakukan penyuluhan seremonial saja. Datang sampai ke tingkat RT, jelasin secara berkelanjutan kepada orang tua bagaimana pengaruh medsos, perkembangan zaman dan lainnya," bebernya. 

Tamil juga menyoroti menjamurnya hiburan malam di kota Tangsel yang menurutnya memberi dampak andilnya anak muda hamil diluar nikah. 

Diketahui juga, selain pernikahan dini, perceraian di kota Tangsel juga marak. Bahkan jumlahnya terdapat hampir setengah dari angka pernikahan yaitu sekira 4 ribu pasangan per tahun. 

Rata-rata, percerain pasangan suami istri di Tangsel ini, disebabkan karena adanya perselingkuhan. Dimulai dari hubungan pada media sosial, masalah ekonomi, rendahnya ketaatan pasangan terhadap agama dan pertahanan keluarga yang rendah. (ak)