CT Prediksi 5-10 Tahun Lagi, Media Siber Akan Kalahkan Bisnis TV

CT Prediksi 5-10 Tahun Lagi, Media Siber Akan Kalahkan Bisnis TV ()

JAKARTA - Peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SMSI ke 3, yang berlangsung Rabu-Jumat (25-27/7/2018), di Hotel Sari Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat,  sempat lama terdiam hingga Chaerul Tanjung (CT) rampung memaparkan perkembangan dan progres bisnis media siber yang akan datang.

“Ini bukan keniscayaan, banyak perubahan yang akan terjadi hingga 3 atau 4 tahun ke depan,” kata bos CT Corp ini kepada peserta anggota SMSI dari 31 provinsi di Indonesia, Rabu (25/7/2018).

Ia mengaku selain sebagai dewan Pembina di SMSI sengaja diarahakan panitia untuk memaparkan perkembangan progres bisnis media siber di era digital sekarang ini.

Memang ada konsekuensi dari perubahan perubahan. Media cetak pernah berjaya, tetapi sekarang berubah.

Mereka membuat dotcom. Ada kompas.com, Jawapos.com atau media lain yang mengarah lebih serius ke media siber. Media cetak sudah tidak tepat untuk kebijakan promosi kalah bersaing dengan bisnis penyebaran informasi digital.

“Kompas tadinya berdiri maju dengan media cetak. Saat ini sudah mengembangkan dan lebih serius ke siber atau media berita on-linenya. Sebab ongkosnya kertas dan cetaknya terus melambung sementara demand-nya semakin rendah,” ucap CT.

Di Amerika saat ini merger antar perusahaan media juga sudah kerap terjadi. Dan mereka melakukan itu karena demand yang sudah rendah.

Dahulu padahal mereka Giant (perusahaan raksasa). Ada American.com, Times, Turner, Warner Brothers merupakan sejarah besar perusahaan media yang pernah merger di AS.

“Tapi melihat tren dan progres bisnis media siber semakin mudah dijangkau. Para giant di sana (AS) bahkan tidak lagi merger dengan perusahaan sejenis. Mereka butuh perusahaan media dengan perusahaan penyedia data lantaran kecenderungannya perusahaan yang punya konten tetapi butuh data pengguna untuk dijadikan pelanggannya,” kata CT.

Ini perkembangan terbarunya, jadi perusahaan media yang mulai jatuh sekarang ini tidak melulu merger dengan sesama perusahaan media.

“Dahulu memang begitu. Turner misalkan dengan Warner Bros atau sebaliknya. Tapi fenomena evolusi perkembangan media seperti itu. Tidak sekarang karena bisnis media siber semakin pesat," kata CT.

Peristiwa ini akan sulit kita hindari. Itu bagian besar dan akan terjadi evolusi new media dan media sosial. Di Indonesia hal ini akan terjadi bisa pada 5-10 tahun mendatang.

Kata pria yang sering disebut pengusaha ‘Anak Singkong’ ini terkait progres bisnis media siber antara media televisi sudah mengalami perubahan. Sekarang di Inggris saja dari data sejak tahun 2015 sudah bergeser. Pemasukan bisnis televisi di Inggris saat ini sudah masuk bergeser ke media siber online.

“Televisi dahulu juga giant. Tapi ini sudah mengalami pergeseran. Inggris buktinya. Dan dari data yang anda lihat sekarang ini di AS sudah akan seperti itu, dari beberapa lembaga survey menyebut tahun ini AS akan cross over,” ucapnya sambil memberikan data dari slide proyektor kepada peserta Rakernas.

Progres media siber di Indonesia memang belum mengarah ke situ. Tapi bisnis ini terus menggeliat. Pergeseran orang memakai dunia digital sekarang sudah semakin masif ketimbang televisi.

“Dahulu dunia televisi jadi andalan informasi. Kecenderungan orang tidak melihat informasi dari televisi sudah makin terasa. Orang sudah berlama-lama melihat medsos. Bangun tidur sudah melihat telepon seluler,” ujar dia.

“Kalau era saya masih suka melihat televisi. Tapi usia belasan tahun dan dua puluhan tahun dari data ini lebih cenderung lama dan mau mencari informasi di depan gadjet, laptop atau handphone," tambahnya.

Artinya sekarang saja ada perubahan. Dan nanti Indonesia akan seperti di Inggris atau AS walaupun bukan sekarang. Sekali lagi ini bukan keniscayaan karena pendapatan televisi bisa bergeser ke media siber.

Media dengan berbasis tradisional akan segera lenyap. Posisinya akan terbalik dengan bisnis media siber saat ini.

“Mohon maaf yang media cetak sudah tidak berarti lagi. Itu kan koran, physically nya koran. Tapi mereka tahu, mereka nggak bisa survive. Sebab oplah turun, harga kertas naik, iklan semakin jatuh,” katanya menegaskan.

Maka itu kita kedepan harus the winner take over all (pemenang mengambil alih semua) karena nanti akan ada kebutuhan dunia digital yang kemungkinan butuh merger.

Karena evolusi kebutuhan antara konten dan data. Tren sekarang bahkan digital media ada yang punya data tapi tidak punya konten dan sebaliknya.

“Yang penting kita bisa menyajikan kemauan pelanggan. Kalau dahulu kita yang atur. Sekarang harus palugada. Elu mau gua ada,” tegasnya.

CT menandaskan, yang pasti, peserta yang hadir di acara Rakernas SMSI mempunyai keputusan tepat untuk mengambil bisnis news media atau perusahaan media online. Sebab progress bisnis siber tepat bergerak bagus dengan perkembangan era digital. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya saja, the winner take over all. (pm/red)